PETANI PENOLONG NEGERI

Oleh Iskak Riyanto

Mbah Sastro memandangi persemaian padinya yang mulai menguning. Ada perasaan gundah gulana yang menyelinap direlung hatinya. Benih padi itu dibeli dengan uang utangan di BMT. Di sawur sekitar tiga minggu yang lalu. Bila dua atau tiga hari kedepan hujan tidak turun dipastikan bibit padi itu akan mati kekeringan. Awalnya dia ingin menanam padi hasil panenan atau benih "tularan" dari musim kemarau (MH) tahun lalu, kebiasaan yang selama ini dia lakukan. Tapi kata-kata Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) desa setempat selalu terngiang-ngiang ditelingganya.  Berawal saat di balai desa ada penyuluhan pertanian dengan tema "Budidaya padi biaya hemat produksi meningkat untuk menyongsong musim hujan (MH) tahun 2018-2019  yang diadakan oleh kelompok tani (poktan) sebulan yang lalu. Dalam paparanya, PPL setengah baya itu berkata, " Konco-konco petani bila ingin hasil panen meningkat harus menggunakan benih bermutu berlabel dan bersertifikat. Jangan menanam benih "tularan", sudah tidak jamanya lagi itu. Harga memang lebih sedikit mahal tetapi hasil panen nanti lebih banyak. Selain itu pertumbuhan tanaman juga serempak dan rata. Tidak ada jlegoran yang bisa mengundang hama walang sangit dan burung emprit".

Sambil menghisap ududnya mbah Sastro memutari teban pinehanya. Matanya sesekali memandang hamparan sawah, kering tanahnya, tetapi rerumputan tumbuh subur disana. Hujan dua kali beberapa waktu yang lalu malah menghijaukan tumbuhan toleran panas itu. Dan karena hujan dua kali itu yang membuat dia dan tetangganya segera membuat lahan persemaian. Akhir bulan Oktober biasanya dah memasuki musim hujan, batinya. Pagi hari setelah hujan yang kedua itu petani di desanya berbondong-bondong membuat teban pinehan. Mereka sudah kangen  mencangkul dan membau tanah sawah yang khas. Sebulan terakhir ini sawahnya istirahat total setelah panen kedele, walau kadang-kadang seminggu sekali tetap ke sawah sekedar jalan-jalan saja. Tetapi alam berkata lain, dua minggu nyawur hujan tidak turun lagi. Tanah sawah menjadi kering lagi, hujan dua kali itu tidak  mampu membasahi sawah dan menyegarkan bibit padinya. Sepuluh tahun terakhir ini cuaca memang sulit diprediksi.

Karena tidak ada yang dilakukan lagi, mbah Sastro beranjak pulang. Sinar matahari sudah lumayan panas. Sambil menyusuri pematang yang juga kering, sesekali dia menyeka peluh didahi. Ini rahasia yang membuat petani lebih sehat. Aktivitas sehari-hari di sawah sudah ngiras ngirus olah raga. Jalan kaki telanjang sudah menyamai pijat refleksi. Saat mencangkul sama persis seperti profesional yang sedang main golf. Lihat daun padi yang menghijau dan air bening yang mengalir bisa menentramkan jiwa. Siang yang panas memapar punggungnya sebagai obat untuk melancarkan aliran darah dan kolesterol jahat. Sarapan nasi hangat dengan tempe plus sambal teri yang pedas buatan sang istri penambah staminanya.

Awal musim hujan tahun 2018-2019 memang agak mundur. Oleh BMKG diprediksi jatuh dibulan November dasarian I-III. Ini beda sekali dengan awal musim hujan tahun 1981-2010. Sumber data menunjukan bulan Oktober dasarian I-III dan bulan November dasarian I sudah masuk awal musim hujan. Dulu awal musim hujan dan musim kemarau prediksi ramalan cuaca BMKG selalu pas. Okmar (Oktober-Maret) musim hujan, Apsep ( April-September) musim kemarau. Dulu alam masih bersahabat dengan kita. Sekarang alam enggan bersahabat dengan kita. Kita tidak tahu penyebabnya. Bila penasaran coba tanyakan kepada rumput yang bergoyang, kata Ebiet G. Ade dalam syair lagunya.
Alhamdulillah, bulan Desember dasarian II ini sudah memasuki musim hujan. Intensitas hujan sudah sering dan deras. Teban pinehan yang beberapa waktu lalu menguning mulai segar menghijau. Dibantu aliran air dari wadul Pacal perlahan dengan pasti air sudah memenuhi sawah. Traktor juga sudah masuk sawah mengolah tanah dengan tahap awal menyingkal. Rumput yang tidak ada matinya walau musim kemarau kemarin secara bergantian dibalik kedalam tanah oleh bajak besi buatan Jepang. Operator traktornya juga sehat wal afiat karena ngiras ngirus olah raga.   Semua senang, riang gembira, oleh datangnya hujan. Luar biasa, hujan memang rejeki bagi kita semua. Petani senang, karena akan segera bercocok tanam walau sekitar tiga bulan lagi panen datang. Buruh tani juga senang, yang perempuan bisa segera lagi turun ke sawah sebagai regu tandur/tanam. Yang laki-laki ada pekerjaan lagi untuk daut/cabut benih, kepruk galeng, mupuk dan menyemprot.

Kebahagian ini juga terjadi pada diri mbah Sastro. Winehnya seger lagi. Bayangan untuk mendapatkan hasil panen yang meningkat ada harapan lagi. Kata-kata PPL yang lainya dalam penyuluhan itu diingat-ingat lagi. Lupa-lupa ingat memang, saat itu dia tidak mencatat. Bagaimana mau mencatat, bawa bolpoint saja tidak, apalagi buku tulis. Sambil menghisap udut dan mengeluarkan asapnya dia terus  mengingat. " Selain memilih benih bermutu berlabel dan bersertifikat harus menanam Varietas Unggul Baru(VUB) baik inhibrida atau hibrida. Ini tehnologi Pengelolaan Tanamam Terpadu (PTT) yang juga bisa mendongkrak hasil panen 19-24% atau setara 1-2 ton/ha. Dengan VUB spesifik lokasi di daerah, juga toleran hama dan penyakit, produktivitas tinggi, rasa nasi enak dan diterima pasar. Di Bojonegoro VUB eksistensi seperti IR64, Ciherang, Situbagendit, Mekongga, Inpari 6, Inpari 13, 21, 24, 30, 32, 33 dan 42". Mbah Sastro tersenyum sendiri, ternyata dia masih ingat. Ingatanya masih kuat memang, ini berkah profesinya sebagai petani.
Selain membuat tubuh sehat, profesi petani juga mulia. Berkat jasa petani kita semua bisa makan beras/nasi, sayur, buah, ikan juga susu.
Kalau guru mendapat sebutan Pahlawan tanpa tanda jasa, petani juga mendapat julukan Pahlawan pangan, keren kan?. 
K. H. Hasyim Asy'ari pendiri NU menyebut "Pak tani itulah penolong negeri". 
Dalam beberapa literatur, jaman klasik dan modern ini ada beberapa yang memuliakan menghormati petani. Dahulu saat jaman kerajaan Andalusia ( Spanyol) dalam sebuah maqolah petani mendapat sebutan "Al-falahu Sayyidul Bilad" yang artinya petani adalah tuan negeri. Sayyid merupakan sebutan kehormatan dalam bahasa arab. Saat itu tehnologi irigasi dan pertanian menjadi sumber ekonomi utama negara.
Di Jepang sekarang ini petani juga sangat dihormati dan penyuluh pertanianya. Bila tanamanya ada yang terkena hama atau penyakit petani akan mendatangi PPL untuk konsultasi dan membawa contoh tanaman yang sakit. Para petani juga taat membayar semacam zakat kalau di negara kita. Mereka menyisihkan hasil panen sekian % yang diberikan ke lembaga sosial. Para petani negeri Sakura itu sangat tekun, kerja keras dan disiplin dalam berusaha tani.

#selamat menyongsong musim hujan tahun 2018-2019.


0 Response to "PETANI PENOLONG NEGERI"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel