Selasa, 24 Maret 2015

PERUBAHAN CUACA BERDAMPAK DI PERTANIAN


Setelah Indonesia mengalami musim kemarau basah seperti saat ini masyarakat umum seakan semakin yakin bahwa perubahan iklim adalah fakta bukan mitos.
Masih segar dalam ingatan masyarakat tahun 2009 Indonesia mengalami iklim kering El Nino walau tidak seekstrem seperti tahun 1997,  2002 dan 2007. Pertemuan suhu muka laut yang sangat dingin di Samudra Pasifik (Daerah Nino 3,4) dan suhu perairan Indonesia yang hangat diperkirakan akan menimbulkan curah hujan dengan intensitas tinggi di Indonesia bahkan sampai musim panen raya 2011. Perubahan iklim yang dimaksud adalah perubahan setiap parameter iklim seperti perubahan cuaca ekstrem curah hujan arah angin dan sebagainya.

Genangan air berlebihan meningkatkan peluang rawan banjir di persawahan menjadi 3 persen dan peluang puso biji hampa sampai 14 persen.   Sementara musim kering ekstrem akan meningkatkan peluang kekeringan di persawahan menjadi 8 persen dan peluang puso sampai 2 persen.  Secara keseluruhan perubahan iklim ekstrem berpeluang menurunkan produksi pangan sampai 10 persen (Irsal Las dan kawan kawan, 2009) joka negara tidak melakukan apa apa.
Estimasi di atas belum mempertimbangkan ancaman lain karena perubahan iklim ekstrem juga akan memunculkan wabah hama dan penyakit tanaman. Pemanasan global karena meningkatnya konsentrasi karbon dioksida di udara adalah salah satu bentuk dari perubahan iklim karena terganggunya aktivitas tanaman dan pepohonan untuk menambat karbon.  Dalam konteks makro sektor pertanian seharusnya mampu menjadi solusi adaptasi bukan hanya dianggap penyebab perubahan iklim.  Sistem wanatani agroforestry memungkinkan penambatan gas karbon di udara karena pola tumpang sari tanaman pangan dan pepohonan atau buah buahan dapat meredam perubahan iklim mengurangi laju erosi atau degradasi lahan sekaligus mampu memberikan tambahan pendapatan petani.
Alasan fenomena perubahan iklim ekstrem seakan memperoleh pembenaran politis bahwa musim (baca :  Tuhan)  tidak sedang bersahabat dengan pertanian Indonesia.   Saat ini, BPS menghitung ulang angka ramalan produksi beras dan pangan lain yang akan diumumkan awal November 2010. Sesuatu yang harus diperbaiki pada metode estimasi produksi beras adalah faktor indeks pertanaman (IP)  yang perlu lebih realistis tidak hanya berdasarkan pada aspek curah hujan dan penggimaan faktor produksi atau aspek budidaya,  tetapi pada peluang terjadinya penurunan  produksi atau gagal panen karena beberapa faktor baru yang belum dipertimbangkan sebelumnya.
Taruhlah pengukuran produktivitas padi yang diperoleh dari sampel ubinan (2, 5 meter x  2, 5 meter)  oleh petugas statistik di lapangan mendekati akurat.  Akurasi estimasi angka produksi pangan akan lebih banyak ditentukan oleh variabel luas panen yang sangat bergantung pada faktor IP di atas,  dan ketajaman mata petugas pertanian di lapangan memperkirakari luas tanam sawah petani.  Idealnya semua petugas pertanian di lapangan menguasai dan melengkapi dirinya dengan alat ukur sederhana seperti GPS  (global positioning system),   sehingga sekaligus mampu memantau alih fungsi lahan pertanian pangan menjadi kegunaan lain.
Pada era perubahan iklim mi masa depan pertanian Indonesia tidak dapat mengandalkan perencanaan dan implementasi kebijakan sebagaimana biasa.   Pembangunan pertanian ke depan memerlukan ketepatan kombinasi aplikasi sains dan inovasi teknologi yang berbasis presisi dan obyektivitas dengan kearifan lokal berdasar prinsip adaptabilitas kemanfaatan dan kemaslahatan.  Di tingkat kebun percobaan para peneliti telah banyak menghasilkan inovasi varietas baru berbasis bioteknologi konvensional dan modern adaptif perubahan iklim.
Di tingkat kebijakan kejelasan posisi Indonesia untuk lebih promotif terhadap penggunaan bioteknologi terutama yang dihasilkan di dalam negeri amat sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, dan sebagainya.  Muara dari perubahan kebijakan ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat Indonesia.  Di tingkat lebih aplikatif pemerintah telah mengembangkan kegiatan yang mengarah pada adaptasi pembahan ildim seperti Sekolah Lapang Pengelola Pertanian Terpadu, Sekolah Lapang Perubahan Iklim, Sistem Tanam Benih Langsung dan sebagainya.   Namun daya jangkau program tersebut terbatas belum menyentuh seluruh 17, 8 juta rumah tangga petani pangan di Indonesia.
Sistem penyuluhan cara lama seperti latihan dan kunjungan perlu disempurnakan dan dikombinasikan dengan teknik pendampingan dan pemberdayaan petani dengan peta jalan yang lebih sistematis.  Kini momentum yang tepat untuk memperbaiki kerja sama pemerintah (pusat dan daerah)  dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian di seluruh Indonesia yang merupakan sumber informasi sains dan teknologi. Hubungan yang cenderung transaksional perlu diubah menjadi hubungan fungsional untuk membantu petani dan mempersiapkan kapasitas petani dan pelaku, dan menghadapi era perubahan iklim Dengan menjadi mitra petani merasa terbantu bukan sekadar obyek kajian dan pembinaa
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © PATRA BOJONEGORO | | #