NUTRISI TANAMAN













NUTRISI TANAMAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Kebutuhan tanaman akan unsur hara berbeda – beda bergantung pada umur, jenis tanaman, dan kebutuhan tanaman itu sendiri. Pada masa vegetative tanaman lebih membutuhkan unsur N,unsur N sangat vital bagi pertumbuhan tanaman karena unsur ini paling banyak dibutuhkan tanaman. Unsur ini fungsi utamanya adalah mensintesisi klorofil yang difungsikan tumbuhan dala melakukan pross fotosintesis. Yang perlu diingat tanaman tidak dapat menyerap unsur hara dalam bentuk tunggal tetapi tanaman menyerap unsur hara tersebut dalam bentu ion seperti unsur hara N dapat diserap tanaman dalam bentuk NH4 dan NO3- begitu juga unsur lain juga diserap tanaman dalan bentuk ion, yang sering disebut sebagai bentuk tersedia bagi tanaman. Tetapi permasalahannya jika unsur N diberikan dalam jumlah yang berlebih justru dapat mengakibatkan produksi tanaman menurun, hal ini dikarenakan pemberian unsur N dalam jumlah yang banyak atau melebihi kebutuhan tanaman dapat mengekibatkan fase vegetative tanaman lebih panjang sehingga pembentukan organ generative tidak maksimal. Akibatnya selain produktivitasnya menurun, kualitas yang dihasilkan juga menurun.
Unsur hara merupakan komponen penting dalam pertumbuhan tanaman, unsur hara banyak tersedia dialam, sehingga tumbuhan bisa memanfaatkannya untuk kebutuhan metabolismenya. Tetapi ketersediaan unsur hara di beberapa tempat tidak sama, ada yang berkecukupan sehingga pertumbuhan tanaman menjadi baik namun ada juga yang kekurangan, sehingga pertumbuhannya menjadi terhambat. Khusus untuk tanaman budidaya kebutuhan unsur haranya sangat tinggi, hal ini dikarenakan pada lahan atau tempat yang sama ditanami tanaman tertentu yang membutuhkan jumlah unsur yang sama setiap waktunya. Sedangkan persediaan dialam terus berkurang akibat diserap oleh tanaman budidaya yang ditanam dilahan tersebut musimnya (intensif), sehingga untuk dapat memenuhi kebutuhan tanaman akan unsur hara harus dilakukan penambahan unsur hara dalam bentuk pupuk dalam jumlah yang cukup.
Berdasarkan ke esensialannya unsur hara yang dibutuhkan tanaman terbagi menjadi dua yakni unsur hara esensial dan unsur hara non- esensial atau beneficial. Unsur hara esensial terdiri atas unsur hara makro dan mikro, unsur hara esensial merupakan unsur hara yang mutlak dibutuhkan tanaman dan fungsinya tidak bisa digantikan oleh unsur lain, tidak terpenuhinya salah satu unsur hara akan mengakibatkan tanaman tersebut tidak dapat menyelsaikan siklus hidupnya. Sedangkan unsur beneficial adalah unsur tambahan yang tidak dibutuhkan oleh semua tanaman, namun perannanya cukup penting pada tanaman tertentu, misalnya jagung agar hasilnya berkualitas perlu ditambahkan unsur Al yang bisa diberikan pupuk ALPO4 (Alumunium fosfat) dalam jumlah tertentu. Bagi tanaman lain unsur Al justru dapat menyebabkan keracunan, namun pada tanaman jagung toleran terhadap Al pada jumlah tertentu malah akan membantu meningkatkan produktivitasnya mendekati potensi genetisnya.
Oleh karena itu diperlukan suatu pengujian untuk mendeteksi batas kritis suatu tanaman akan unsur hara tertentu sehingga dapat diketahui kebutuhan tanaman akan unsur hara tertentu yang optimum. Uji batas keritisan tanaman akan unsur N maupun unsur lainnya bisa dilakukan dengan menganalaisis jaringan tanaman untuk memperkirakan tingkat kesuburan tanaman. Tujuan dilakukannya analisis batas kritis tanaman ukan suatu unsur hara tertentu bertujuan untuk memperkirakan kadar atau jumlah unsur hara pada batas kritis. Selain itu juga untuk mengetahui dan menentukan jumlah unsur hara dalam jaringan tanaman yang menunjukan hasil optimum.

1.2  TUJUAN PRAKTIKUM
Adapun tujuan dari praktikum nutrisi tanaman yaitu untuk melihat interaksi yang terjadi antara padi dengan jenis pupuk yang berbeda  pada media pasir sehingga mahasiswa mampu mengerti tentang kekurangan unsure-unsur hara pada tanaman.
1.3  BAHAN DAN ALAT
  • Bahan :
    • Pasir
    • Polybag
    • Benih padi
    • Pupuk
    • Air
    • Alat :
      • pH meter
      • Shaker
      • Oven
      • Alat tulis
      • Gembor














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 TANAH PASIR
Pasir adalah contoh bahan material butiran. Butiran pasir umumnya berukuran antara 0,0625 sampai 2 milimeter. Materi pembentuk pasir adalah silikon dioksida, tetapi di beberapa pantai tropis dan subtropis umumnya dibentuk dari batu kapur. Pasir tidak dapat ditumbuhi oleh tanaman, karena rongga-rongganya yang besar-besar.
Tanah pasir adalah tanah yang bersifat kurang baik bagi pertanian yang terbentuk dari batuan beku serta batuan sedimen yang memiliki butir kasar dan berkerikil. Tanah pasir merupakan tanah yang terbentuk dari batuan beku serta batuan sedimen yang memiliki butir kasar dan berkerikil. Kapasitas serap air pada tanah pasir sangat rendah, ini disebabkan karena tanah pasir tersusun atas 70% partikel tanah berukuran besar (0,02-2mm).
Tanah pasir bertekstur kasar, dicirikan adanya ruang pori besar diantara butir-butirnya. Kondisi ini menyebabkan tanah menjadi berstruktur lepas dan gembur. Melihat dari ciri-ciri tanah pasir tersebut dapat dengan mudah dijelaskan bahwa tanah pasir memiliki kemampuan mengikat air yang sangat rendah.

Tanah pasir sangat tidak cocok digunakan sebagai media tanam disebabkan tanah ini memiliki partikel besar kurang dapat menahan air. Air dalam tanah akan berinfiltrasi, bergerak ke bawah melalui rongga tanah. Akibatnya tanaman kekurangan air dan menjadi layu. Kondisi semacam ini apabila berlangsung terus menerus dapat mematikan tanaman.

2.2 TANAMAN PADI
2.2.1 Sekilas Tanaman Padi
Padi merupakan tanaman yang paling penting di negeri kita Indonesia ini. Betapa tidak karena makanan pokok di Indonesia adalah nasi dari beras yang tentunya dihasilkan oleh tanaman padi. Selain di Indonesia padi juga menjadi makanan pokok negara-negara di benua Asia lainnya seperti China, India, Thailand, Vietnam dan lain-lain. Padi merupakan tanaman berupa rumput berumpun. Hama yang banyak menyerang tanaman ini adalah tikus, orong-orong, kepinding tanah (lembing batu), walang sangit dan wereng coklat. Hama-hama itulah yang sering menyebabkan padi gagal panen dan tentunya membuat petani merugi.
Negara produsen padi terkemuka adalah Republik Rakyat Cina (31% dari total produksi dunia), India (20%), dan Indonesia (9%). Namun hanya sebagian kecil produksi padi dunia yang diperdagangkan antar negara (hanya 5%-6% dari total produksi dunia). Thailand merupakan pengekspor padi utama (26% dari total padi yang diperdagangkan di dunia) diikuti Vietnam (15%) dan Amerika Serikat (11%).

2.2.2 Klasifikasi tanaman padi
Klasifikasi botani tanaman padi adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monotyledonae
Keluarga : Gramineae (Poaceae)
Genus : Oryza
Spesies : Oryza spp.
jenis tanaman  padi yang biasa dijumpai yaitu :
•Padi Gogo
Di beberapa daerah tadah hujan orang mengembangkan padi gogo, suatu tipe padi lahan kering yang relatif toleran tanpa penggenangan seperti di sawah. Di Lombok dikembangkan sistem padi gogo rancah, yang memberikan penggenangan dalam selang waktu tertentu sehingga hasil padi meningkat.
•Padi rawa
Padi rawa atau padi pasang surut tumbuh liar atau dibudidayakan di daerah rawa-rawa. Selain di Kalimantan, padi tipe ini ditemukan di lembah Sungai Gangga. Padi rawa mampu membentuk batang yang panjang sehingga dapat mengikuti perubahan kedalaman air yang ekstrem musiman.
•Padi Pera
Padi pera adalah padi dengan kadar amilosa pada pati lebih dari 20% pada berasnya. Butiran nasinya jika ditanak tidak saling melekat. Lawan dari padi pera adalah padi pulen. Sebagian besar orang Indonesia menyukai nasi jenis ini dan berbagai jenis beras yang dijual di pasar Indonesia tergolong padi pulen.
•Padi Ketan
Ketan (sticky rice), baik yang putih maupun merah/hitam, sudah dikenal sejak dulu. Padi ketan memiliki kadar amilosa di bawah 1% pada pati berasnya.
•Padi Wangi
Padi wangi atau harum (aromatic rice) dikembangkan orang di beberapa tempat di Asia, yang terkenal adalah ras Cianjur Pandanwangi (sekarang telah menjadi kultivar unggul) dan rajalele. Kedua kultivar ini adalah varietas javanica yang berumur panjang.
2.2.3 Sejarah Singkat Tanaman Padi
Padi diduga berasal dari India atau Indocina dan masuk ke Indonesia dibawa oleh nenek moyang yang migrasi dari daratan Asia sekitar 1500 SM. Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia.
Asal-usul budidaya padi diperkirakan berasal dari daerah lembah Sungai Gangga dan Sungai Brahmaputra dan dari lembah Sungai Yangtse. Tanaman pertanian ini juga diduga berasal dari dua benua yaitu Asia dan Afrika Barat tropis dan subtropis. Bukti sejarah memperlihatkan bahwa penanaman padi di Zhejiang (Cina) sudah dimulai pada 3.000 tahun SM. Fosil butir padi dan gabah ditemukan di Hastinapur Uttar Pradesh India sekitar 100-800 SM. Selain Cina dan India, beberapa wilayah asal padi adalah Bangladesh Utara, Burma, Thailand, Laos, Vietnam.
Padi pada saat ini tersebar luas di seluruh dunia dan tumbuh di hampir semua bagian dunia yang memiliki cukup air dan suhu udara cukup hangat. Padi menyukai tanah yang lembab dan becek. Sejumlah ahli menduga, padi merupakan hasil evolusi dari tanaman moyang yang hidup di rawa. Pendapat ini berdasar pada adanya tipe padi yang hidup di rawa-rawa (dapat ditemukan di sejumlah tempat di Pulau Kalimantan), kebutuhan padi yang tinggi akan air pada sebagian tahap kehidupannya, dan adanya pembuluh khusus di bagian akar padi yang berfungsi mengalirkan udara (oksigen) ke bagian akar.
Pada tahun 1984 pemerintah Indonesia pernah meraih penghargaan dari PBB (FAO) karena berhasil meningkatkan produksi padi hingga dalam waktu 20 tahun dapat berubah dari pengimpor padi terbesar dunia menjadi negara swasembada beras. Prestasi ini tidak dapat dilanjutkan dan baru kembali pulih sejak tahun 2007.











2.3 UNSUR HARA NITROGEN ( N ), PHOSFOR ( P ) DAN KALIUM ( K )
2.3.1 Nitrogen (N)
Sebagian nitrogen tanah berada dalam bentuk N-Organik. Nitrogen organik (hasil fiksasi N-biologis, bahan tanaman dan kotoran hewan) yang dibenamkan dalam tanah merupakan N-organik yang tidak dapat diserap begitu saja oleh tanaman. Lebih lanjut dikatakan, jumlah N dalam tanah dapat bertambah akibat dari pemupukan N, fiksasi N-biologis, air hujan dan penambahan bahan organik, sedangkan N dapat berkurang karena pencucian, pemanenan, denitrifikasi dan volatilisasi (Hakim dkk, 1986).
Konversi N organik ke bentuk N mineral (NH4+ dan NO3-) berlangsung melalui transformasi biokimia yang dilakukan oleh mikroorganisme yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti suhu, kelembaban dan pH tanah. Langkah pertama adalah amonifikasi yakni konversi N organik ke bentuk NH4+. Transformasi ini dilakukan oleh bakteri-bakteri heterotrof. Proses nitrifikasi yang mengubah NH4 ke NO3- dilakukan oleh dua kelompok bakteri autotrof yaitu nitrosomonas yang mengubah NH­4+ ke NO2- dan nitrobacter yang mengubah NO2- menjadi NO­3- (Samosir, 1994).
Nitrogen pada umumnya diserap tanaman dalam bentuk NH4+ (ammonium) dan NO3- (nitrat), senyawa ini diserap melalui akar ke daun selama proses asimilasi yang kemudian ditransformasikan dalam bentuk asam amino dan protein (Indranada, 1994).
Peranan utama nitrogen (N) bagi tanaman jagung adalah merangsang pertumbuhan secara keseluruhan khususnya batang, cabang, dan daun. Selain itu, nitrogenpun berpea penting dalam pembentukan zat hijau daun yang sangat berguna dalam proses fotosintesis (Lingga, 2000).
Kekahatan atau defisiensi nitrogen menyebabkan proses pembelahan sel terhambat dan akibatnya menyusutkan pertumbuhan. Selain itu, kekahatan senyawa protein menyebabkan kenaika nisbah C/N, dan kelebihan karbohidrat ini akan meningkatkan kandungan selulosa dan lignin. Ini menyebabkan tanaman jagung yang kahat nitrogen tampak kecil, kering, tidak sukulen, dan sudut terhadap batang sangat runcing (Poerwowidodo, 1992).







2.3.2 Posfor (P)
Paling sedikit ada empat sumber pokok fosfor untuk memenuhi kebutuhan akan unsur ini, yaitu pupuk buatan, pupuk kandang, sisa-sisa tanaman termasuk pupuk hijau dan senyawa asli unsur ini yang organic da anorganik yang terdapat dalam tanah (Buckman and Brady, 1992).
Unsur P diserap tanaman dalam bentuk ortofosfat primer H2PO4-. Menyusul kemudian dalam bentuk HPO42-. Spesies ion yang merajai tergantung dari pH system tanah-pupuk-tanaman, yang mempunyai ketersediaan tinggi pada pH 5,5 – 7. Kepekatan H2PO4- yang tinggi dalam larutan tanah memungkinkan tanaman mengangkutnya dalam takaran besar karena perakaran tanaman diperkirakan mempunyai 10 kali penyerapan tanaman untuk H2PO4-dibanding untuk HPO42-(Poerwowidodo, 1992).
Bentuk P yang lain yang dapat diserap oleh tanaman adalah firofosfat dan metafosfat. Kedua bentuk ini misalnya terdapat dalam bentuk P dan K metafosfat. Tanaman juga menyerap P dalam bentuk fosfat organic, yaitu asam nukleat dan phytin. Kedua bentuk senyawa ini terbentuk melalui proses degradasi dan dekomposisi bahan organik yang langsung diserap oleh tanaman (Anonim, 1993).
Ketersediaan fosfor dalam tanah ditentukan oleh banyak factor tetapi yang paling penting adalah pH tanah. Pada tanah yang ber pH rendah (masam), fosfor akan bereaksi dengan ion besi (Fe) dan aluminium (Al). reaksi ini akan membentuk besi fosfat atau aluminium fosfat yang sukar larut di dalam air sehingga tidak dapat digunakan oleh tanaman. Pada pH tanah yang tinggi (basa), fosfor akan bereaksi dengan ion kalsium. Reaksi ini akan membentuk kalium fosfat yang sifatnya sukar larut dan tidak dapat digunakan oleh tanaman. Dengan demikian tanpa memperhatikan pH tanah, pemupukan fosfor tidak akan berpengaruh bagi pertumbuhan tanaman (Novizan, 2002).
Fosfor dapat berpengaruh menguntungkan pada pembelahan sel dan pembentukan lemak serta albumin, pembungaan dan pembuahan, termasuk proses pembentukan biji, perkembangan akar, khususnya akar lateral dan akar halus berserabut, kekuatan batang, dan ketebalan tanaman terhadap penyakit tertentu (Buckman and Brady, 1992).
Gejala kekurangan P pada tanaman jagung dapat menjadikan pertumbuhan terhambat (kerdil), daun-daun/malai menjadi ungu atau coklat mulai dari ujung daun, dan juga pada jagung akan menyebabkan tongkol jagung menjadi tidak sempurna dan kecil-kecil (Hardjowigeno, 1993).





2.3.3 Kalium (K)
Berdasarkan ketersediaannya dalam tanah, unsur K dapat digolongkan dalam (1) bentuk segera tersedia, (2) lambat tersedia, dan (3) relative tidak tersedia. Kalium tersedia dijumpai segabai kalium dalam larutan tanah dan kalium yang dapat dipertukarkan. Kalium dalam larutan tanah lebih muda diserap oleh tanaman dan juga peka terhadap pencucian. Kalium dalam bentuk yang lambat tersedia biasanya terdapat pada tanah-tanah mineral 2 : 1. Kalium yang berasal dari pupuk akan difiksasi diantara kisi-kisi mineral tersebut sehingga menjadi kurang tersedia bagi tanaman. Dalam kondisi demikian maka akan mengurangi kehilangan K melalui pencucian. Selanjutnya K yang terjerap itu lambat laun akan diubah menjadi bentuk tersedia dan ini merupakan cadangan kalium tanah. Bentuk kalium yang relatif tidak tersedia sebagian besar berasal dari kalium tanah mineral yang umumnya masih berada dalam mineral tanah seperti feldspar dan mika (Hakim, dkk, 1986).
Tanaman menyerap kalium dalam bentuk K+ (umumnya pada tanaman muda). Kalium dijumpai dalam tanah dengan jumlah yang sangat kecil. Berbeda dengan unsur lainnya kalium tidak dijumpai dala bahan atau bagian tanaman seperti protoplasma, lemak dan glukosa. Kemampuan tanah untuk menyediakan kalium dapat diketahui dari susunan mineral yang erdapat dalam tanah. Namun, umumnya mineral leusit dan biotit yang merupakan sumber langsung dalam kalium bagitanaman. Gejala tanaman yang kekurangan kalium adalah daun menjadi mengerut atau kering terutama pada daun tua, walaupun tidak merata. Selanjutnya pada jagung yang mengalami kekurangan unsur ini akan terlihat bercak merah coklat serta daunnya akan mengering dan mati, buah tumbuhan tidak semprna, kecil dan serta tidak tahan simpan (Soepardi, 1983).

2.3.5 Jenis-Jenis Pupuk
  • Pupuk Urea [(CO (NH2)2]
Urea merupakan pupuk buatan hasil persenyawaan NH4 (ammonia) dengan CO2. Bahan dasarnya biasanya berupa gas alam dan merupakan ikatan hasil tambang minyak bumi. Kandungan N total berkisar antara 45-46 %. Dalam proses pembuatan Urea sering terbentuk senyawa biuret yang merupakan racun bagi tanaman kalau terdapat dalam jumlah yang banyak. Agar tidak mengganggu kadar biuret dalam Urea harus kurang 1,5-2,0 %. Kandungan N yang tinggi pada Urea sangat dibutuhkan pada pertumbuhan awal tanaman. (Ruskandi, 1996).
Urea termasuk pupuk nitrogen yang higroskopis. Urea mudah larut dalam air dan jika diberikan ke tanah maka mudah berubah menjadi amoniak dan karbondioksida. Pemberian urea pada tanah bias dilakukan 2-3 kali lebih efisien dengan dosis yang tidak terlalu tinggi karena jika demikian akan mengakibatkan daun akan terbakar (Lingga, 2000).


  • Pupuk SP 36 (Superphospat 36)
SP 36 merupakan pupuk fosfat yang berasal dari batuan fosfat yang ditambang. Kandungan unsur haranya dalam bentuk P2O5 SP 36 adalah 46 % yang lebih rendah dari TSP yaitu 36 %. Dalam air jika ditambahkan dengan ammonium sulfat akan menaikkan serapan fosfat oleh tanaman. Namun kekurangannya dapat mengakibatkan pertumbuhan tanaman menjadi kerdil, lamban pemasakan dan produksi tanaman rendah. (Hakim, dkk, 1986).
  • Pupuk KCl (Kalium Klorida)
Pembuatan pupuk KCl melalui proses ekstraksi bahan baku (deposit K) yang kemudian diteruskan dengan pemisahan bahan melalui penyulingan untuk menghasilkan pupuk KCl. Kalium klorida (KCl) merupakan salah satu jenis pupuk kalium yang juga termasuk pupuk tunggal. Kalium satu-satunya kation monovalen yang esensial bagi tanaman. Peran utama kalium ialah sebagai aktivator berbagai enzim. Kandungan utama dari endapan tambang kalsium adalah KCl dan sedikit K2SO4. Hal ini disebabkan karena umumnya tercampur dengan bahan lain seperti kotoran, pupuk ini harus dimurnikan terlebih dahulu.
  • Pupuk Np
Ammo-Phos dengan rumus kimia NH4H2PO4 (mono ammonium fosfat) dengan kadar unsure hara Amphos A 11 % N + 48 % P2O5 (larut dalam air), Amophos B 16,5 % N + 20 % P2O5 (larut dalam air). (Hardjowigeno, 1992).
  • Pupuk NK
Jarang digunakan, misalnya kalium nitrat KNO3 dengan kadar 13 % N + 44 % K2O, Potazote (13-0-22) yang bereaksi masam, sendawa kali (13-0-44) yang bereaksi netral, Nitrapo (15-015) yang bereaksi basa. (Hardjowigeno, 1992).
  • Pupuk PK
Pupuk ini juga jarang digunakan, misalnya kalium metafosfat dengan kadar    60 % P2O5 + 40 % K2O. mono kalium fosfat dengan kadar 52 % P2O5 + 34 % K2O.
  • Pupuk NPK
Pupuk majemuk yang mengandung tiga unsure sekaligus (NPK) disebut pupuk lengkap, contoh dari pupuk ini adalah pupuk NPK dari jerman yaitu Rustica Yellow dengan rumus kimia NH4 NO3 – NH4H2 P-O4-KCl dengan kadar unsur hara  15 % N + 15 % P2O5 + 15 % K2O. yang sifatnya berupa butiran-butiran berwarna kekuning-kuningan. Dengan kandungan unsur hara Nitrogen 15 % dalam bentuk NH3, fosfor 15 % dalam bentuk P2O5, dan kalium 15 % dalam bentuk K2O. Sifat Nitrogen (pembawa nitrogen ) terutama dalam bentuk amoniak akan menambah keasaman tanah yang dapat menunjang pertumbuhan tanaman.(Hardjowigeno, 1992).

BAB III
 HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 HASIL MINGGUAN
  • Minggu ke-1 tanggal 13 maret 2012 15:30 s/d selesai
Kegiatan : asistensi praktikum
  • Minggu ke-2 Tanggal 20 maret 2012 15:00 s/d selesai
Kegiatan : penanaman benih padi pada media pasir sebanyak 16 polybag dan disiram
  • Minggu ke-3 tanggal 27 maret 2012 16 :00 s/d selesai
Kegiatan : pengamatan benih yang ditanam, pada pengamatan ini benih yang ditanam telah mati semua.
  • Minggu ke-3 tanggal 28 maret 2012 17:00 s/d selesai
Kegiatan : menyulam benih, pemberian pupuk dan menyiramnya. Pupuk yang dianjurkan yaitu urea 200 kg/ha, TSP 100 kg/ha dan KCl 60 kg/ha.
  • Minggu ke-4 tanggal 3 april 2012 15:00 s/d selesai.
Kegiatan : menyulam benih yang mati dan melakukan penyiraman, benih yang hidup yaitu 5 benih.











  • Minggu ke-5 Tanggal 10 april 2012, selasa pukul 15:00 s/d selesai
Benih yang tumbuh : benih yang ditanam tumbuh semua pada media polybag yang disediakan.
Kegiatan : mengukur tinggi tanaman, menghitung jumlah daun, dan melihat gejala kekurangan unsur hara (gejala kekurangan).
polybag
Tinggi tanaman (cm)
Jumlah daun
Gejala
1
18
3
Daun kuning pada pucuk
2
8
2
3
12
2
4
5,8
2
Daun kuning pada pucuk
5
7
2
6
8,5
2
7
7
3
8
17
3
9
6
1
10
10
2
11
5
2
12
15
1
13
22
3
14
6,5
1
15
4,5
2
16
6,5
2












  • Minggu ke-6 Tanggal 17 april 2012, , selasa pukul 15:00 s/d selesai.
Kegiatan : mengukur tinggi tanaman, menghitung jumlah daun, dan melihat gejala kekurangan unsur hara (gejala kekurangan).
polybag
Tinggi tanaman
Jumlah daun
Gejala kekurangan
1
28,5
5
2
16
3
3
17
3
4
16,5
4
Tulang daun kuning
5
14
2
Pinggir daun
6
13,5
3
7
15,5
2
8
25,5
5
9
18
3
10
19,5
4
11
20,5
4
12
23
4
13
33
5
14
26,5
4
15
5
2
16
27,5
4
  • Minggu ke-7 Tanggal 24 april 2012, selasa pukul 15:00 s/d selesai.
Kegiatan : mengukur tinggi tanaman, menghitung jumlah daun, dan melihat gejala kekurangan unsur hara (gejala kekurangan) serta mencabut tanaman dan dibawa ke lab untuk menghitung berat keringnya.
polybag
Tinggi tanaman
Jumlah daun
Gejala kekurangan
1
32
5
Gejala kekurangan unsur N,P,K.
2
25
5
Gejala kekurangan unsur P,K.
3
23,5
5
Gejala kekurangan unsur K
4
24
5
Gejala kekurangan unsur P
5
20,5
4
Gejala kekurangan unsur P,K
6
17,5
4
Gejala kekurangan unsur K
7
30,5
4
-
8
26,5
5
Gejala kekurangan unsur N,K
9
24,5
5
-
10
26,5
5
Gejala kekurangan unsur K
11
26
5
Terserang hama ulat
12
28,5
5
Gejala kekurangan unsur K
13
40,5
5
Gejala kekurangan unsur K
14
36
5
-
15
5
2
Gejala kekurangan unsur P
16
40
6
-

3.2 HASIL PASCA PANEN
  • Perhitungan berat kering  tanaman
polybag
Berat basah
Berat kering
1
1,20
0,37
2
0,63
0,18
3
0,83
0,22
4
0,71
0,23
5
0,32
0,10
6
0,48
0,16
7
0,62
0,17
8
0,64
0,17
9
0,97
0,29
10
1,14
0,31
11
1,15
0,29
12
1,41
0,39
13
1,39
0,38
14
1,86
0,40
15
0,61
0,17
16
2,95
0,56

  • Mengukur pH pasir
perlakuan
pH
Kontrol
5,95
N
6,42
P
5,70
K
5,55
N,P
6,39
N,K
5,61
P,K
5,82
N,P,K
5,72









3.3 PEMBAHASAN
Berdasarkan data yang diperoleh pertumbuhan padi memliki berbagai gejala yang berbeda pada setiap perlakuan yang diberikan. Terdapat beberapa factor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman padi diantaranya yaitu : umur tanaman, umur fisiologis jaringan tanaman, macam jaringan, interaksi antar unsur, dan iklim.
Media yang digunakan yaitu tanah pasir yang di perkirakan terdapat sedikit unsure hara sehingga dapat dilihat interaksinya. Karena media yang digunakan adalah tanah pasir menyebabkan air terus kebawah. Hal ini dapat terjadi karena gaya gravitasi lebih besar dari gaya kohesi dan adhesi pada air tersebut.
Berdasarkan reaksi dari pemberian pupuk terhadap pH masing-masing pupuk memliki perbedaan yaitu :
  • Urea menyebabkan reaksi masam
  • TSP menyebabkan reaksi basa
  • KCl menyebabkan reaksi basa
Air dan unsur hara diserap tanaman lewat akar, penyerapan unsur hara terbagi atas tiga cara yakni difusi, mass flow (aliran massa), dan intersepsi akar. Air beserta nutrient yang terlarut didalamnya, disebut larutan tanah, bergerak melalui tanah hingga mencapai akar tanaman. Selanjutnya dari kejadian tersebut terjadi penyerapan air dan nutrient oleh sel – sel tanaman dengan mekanisme yang berbeda.
  • Aliran massa (mass flow) merupakan penyerapan unsur hara melalui pergerakan nutrien atau hara yang ada didalam tanah dalam massa air yang bergerak.
  • Intersepsi akar terjadi pada waktu akar tanaman tumbuh memasuki ruangan yang ditempati oleh unsur hara dan terjadi kontak yang sangat dekat sehingga terjadi pertukaran ion pada permukaan akar dan permukaan kompleks adsorpsi.
  • Difusi merupakan penyerapan hara oleh akar dari larutan tanah, hara yang terlarut lainnya bergerak menuju akar tanpa aliran masa, prisip difusi yakni pergerakan area berkonsentrasi setiap elemen tinggi menuju area yang berkonsentrasi setiap elemen  lebih rendah.







BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
  • Unsure hara memiliki peranan yang berbeda dalam pembentukan jaringan tanaman
  • Mekanisme penyerapan hara oleh tanaman  dapat dilakukan dengan difusi, intersepsi akar, dan flow.
  • Media yang digunakan adalah tanah pasir menyebabkan air terus kebawah.
4.2 SARAN
Dalam melakukan praktikum sebaiknya praktikan lebih bertanggung jawab akan tugas dan fungsinya terhadap jalannya praktikum terutama pada saat pengamatan diharapkan praktikan datang mengamati pertumbuhan tanaman tepat waktu dan sesuai jadwal.
















DAFTAR PUSTAKA

Ruhnayat, Agus. 2007. Penentuan Kebutuhan Pokok Unsur Hara N, P, K untuk Pertumbuhan Tanaman Panili (Vanilla planifolia Andrews). Jakarta : Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik. Buletin Littro. Volume 18 (1 ) : 49 – 59.
Suyamto dan Z. Arifin. 2002. Bio-teknologi pupuk organik. Sidoarjo : Universitas Muhamadiyah Sidoarjo.
Soebiham. 1996. Prinsip – Prinsip Dasar Uji Tanah. Bogor : Institut Pertanian Bogor.




0 Response to "NUTRISI TANAMAN"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel