Minggu, 29 Maret 2015

SAYA SARJANA, SAYA PETANI MUDA


PATRA_Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena sebagian besar penduduk Indonesia mempunyai pencaharian di bidang pertanian atau bercocok tanam. Data statistik pada tahun 2013 menunjukkan jumlah petani di Indonesia mencapai 31,7 juta orang. Meskipun ada kecenderungan terus berkurang namun jumlah ini menempati urutan pertama profesi di negeri ini. Selain itu, negara ini juga memiliki lahan seluas lebih dari 31 juta hektar yang telah siap tanam, dimana sebagian besarnya dapat ditemukan di pulau Jawa.

Sebagai negara yang sangat potensial di sektor pertanian, sudah selayaknya Indonesia menjadi salah satu negara makmur di dunia. Bagaimana tidak, kekayaan negeri ini sangat melimpah ruah. Di segala sektor kehidupan menjamin secara pasti kesejahteraan manusia. Namun sayangnya, kualitas sumber daya manusia yang ada di Indonesia belum sebanding dengan ketersediaan sumber daya alam yang ada.

Sebuah ironi. Negeri yang menyandang predikat agraris ini nyatanya tidak mampu melakukan regenerasi petani dengan baik. Regenerasi petani sepertinya sudah digerus zaman. Anak-anak muda sudah tidak mau lagi menjadi petani. Ketika kesejahteraan sudah tidak bisa didapat lagi dari lahan pertanian, mereka pun meninggalkannya. Akibatnya, jumlah petani semakin menyusut dan tinggalah mereka yang tua yang masih bertahan. Bertahan di tengah himpitan sulitnya bertani karena harga pupuk yang mahal dan harga jual yang tidak begitu menguntungkan.

Menjadi kajian yang sangat menarik ketika kita berbicara tentang minat generasi muda yang semakin berkurang pada sektor pertanian. Pertama, adanya kecenderungan para pemuda terutama yang tinggal di kawasan pedesaan kurang tertarik pada dunia pertanian. Hal ini   tentunya berakibat nyata bahwa dalam sektor pertanian banyak didominasi oleh generasi tua yang umumnya kurang responsif terhadap perubahan. Di samping itu, dalam pandangan pemuda, bertani adalah pekerjaan tradisional yang kurang bergengsi dan hasilnya di samping tidak segera dapat dinikmati juga jumlahnya relatif tak memadai. Hal ini selain ditinjau secara ekonomi juga didukung oleh budaya instan dan ingin cepat menghasilkan, sementara pertanian memerlukan proses panjang, dibutuhkan keuletan dan kesabaran dalam menghadapi berbagai resiko internal dan eksternal. Ditambah lagi dengan berbagai kebijakan yang tidak pro-petani, dan justru seringkali membuat pertanian dipandang sebelah mata dan dijadikan komoditas politik tanpa mempedulikan nasib dan masa depan pertanian.

Kedua, kurangnya dukungan para orang tua baik secara mental maupun material terhadap anak-anak muda untuk menjadi petani. Alih-alih memberikan dukungan, justru orang tua seringkali menurunkan minat anak-anak muda yang ingin menjadi petani. Umumnya orang tua akan lebih bangga jika anak-anaknya menjadi dokter, birokrat, pilot dan profesi lainnya yang dianggap lebih prestisius. Indikasi seperti ini salah satunya dapat dilihat dari banyaknya sekolah-sekolah pertanian ataupun fakultas-fakultas pertanian, terutama di perguruan tinggi swasta, yang kondisinya kekurangan mahasiswa.
Akhirnya banyak para pemuda, terutama yang tinggal di desa, lebih tertarik pada pekerjaan-pekerjaan non-pertanian di kawasan kota-kota besar. Mereka bekerja di sektor non-pertanian seperti menjadi pegawai, buruh pabrik, buruh bangunan, jasa transportasi baik yang formal maupun non-formal, yang menurut pandangannya lebih bergengsi. Kalau mereka mempunyai keahlian spesifik, tentu hal ini bukan masalah. Namun, tak sedikit dari mereka yang tak mempunyai keahlian spesifik dan keberuntungan justru menjadi beban di kota karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan.

Lalu, solusi apakah yang dapat kita ambil dari kenyataan ini?  Ubah paradigma berpikir (mindset) tentang pertanian. Untuk menumbuhkan minat dan kemauan serta mengubah paradigma berpikir tentang pertanian dapat dimulai dengan membangun citra pertanian. Paradigma berpikir tentang pertanian selama ini sedikit banyak telah menurunkan citra pertanian terutama bagi pemuda. Paradigma berpikir harus kita ubah, bahwa pertanian bukan sekadar mencangkul di sawah dan menjadi petani tidak selalu identik dengan kemiskinan. Pertanian bukanlah sektor tradisional yang kurang bergengsi dan tidak memberikan nilai tambah, tetapi merupakan sektor strategis yang mampu memberikan nilai tambah yang berlipat jika dikelola secara profesional seperti sektor-sektor lainnya. Bahkan kemajuan sektor-sektor lain sangat tergantung pada kemajuan sektor pertanian.

Untuk membangun citra pertanian, diperlukan sosialisasi maupun kampanye pertanian yang diharapkan mampu membuat generasi muda sadar akan pentingnya pertanian dengan segala potensi yang dimilikinya. Sosialisasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan berbagai media komunikasi. Selanjutnya, yang perlu dilakukan adalah membuat pusat pendidikan dan latihan kerja yang khusus untuk bidang pertanian. Pusat pendidikan dan latihan ini sangat diperlukan yang nantinya akan menjadi sarana penggemblengan dan menjadi pusat mengasah keterampilan bertani pemuda maupun pusat informasi dunia pertanian terkini.

Demikian juga adanya program pertukaran pemuda tani, sangat menarik dan perlu dilakukan. Kalau selama ini pertukaran pelajar dan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu seringkali dilakukan, apa salahnya jika program pertukaran pemuda tani juga dilakukan untuk memberi kesempatan para petani-petani muda, utamanya yang tinggal di pedalaman pedesaan untuk pengembangan wawasan pertaniannya. Ini sekaligus sebagai suatu upaya untuk menampilkan wajah pertanian yang menarik bagi semua orang, khususnya orang muda di pedesaan.

Berikutnya adalah dengan menanamkan nilai-nilai nasionalisme dalam benak pemuda bahwa menjadi petani adalah salah satu bentuk rasa cinta tanah air karena bertani adalah mempertahankan identitas asli bangsa sebagai bangsa agraris dan melestarikan nilai-nilai luhur yang berkepribadian yang tercermin dari aktivitas bertani. Dimana dalam bertani akan timbul jiwa-jiwa yang sederhana, jujur, dan mengedepankan budi pekerti.

Namun, yang terpenting dari semua itu adalah tetap diperlukan keberpihakan kebijakan yang pro-petani dan pertanian. Segala upaya di atas jika tanpa dibarengi dengan keberpihakan pembuat kebijakan tetap saja tak akan mampu menarik pemuda untuk menjadi petani.  

Dengan demikian, diharapkan ke depan pertanian akan lebih menarik bagi generasi muda. Regenerasi petani pun tak akan berhenti dan profesi petani akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi kaum muda. Pemuda akan mengoptimalkan diri berpartisipasi dalam pembangunan pertanian sekaligus menjadikan pertanian sebagai tumpuan masa depan. Jangan sampai ke depannya Indonesia justru menjadi negeri agraris yang semakin terpuruk, namun sebaliknya Indonesia menjadi bangsa yang besar, bangsa yang sejahtera dan bangsa agraris yang bersahaja
Share:

Jumat, 27 Maret 2015

PATRA Bersama Forum LATUBO ( Lamongan, Tuban, Bojonegoro )



PATRA_Indonesia memiliki potensi daya saing komparatif dengan negara-negara lain khususnya pada sektor pertanian. Dengan jumlah penduduk sekitar 220 juta jiwa (BPS, 2009) dan terus bertambah. Indonesia dituntut untuk mampu memenuhi kebutuhan pokok pangan penduduknya melalui sektor pertanian. Menurut Departemen Pertanian (2009), terjadi peningkatan luas areal panen dan jumlah produksi untuk sub sektor tanaman pangan, perkebunan dan hortikultura. Peningkatan produksi untuk ketiga sub sektor tersebut secara nasional, salah satunya diakibatkan oleh faktor penggunaan bahan kimia perlindungan tanaman atau pestisida dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT). Berdasarkan data BPS (2009), pada petani padi terjadi peningkatan penggunaan pestisida per musim tanam untuk setiap satu hektar tanaman padi. Berdasarkan perkembangan tersebut, maka industri bahan kimia perlindungan tanaman atau pestisida merupakan salah satu industri yang strategis untuk menunjang terpenuhinya kebutuhan pokok secara nasional melalui swasembada pangan. Menurut Deptan (2009), di Indonesia jumlah produk pestisida yang terdaftar telah meningkat tajam hingga 2000 persen sejak berdirinya Komisi Pestisida pada tahun 1970. Pada tahun 1970, pestisida yang terdaftar baru berjumlah 40 produk, sementara pada tahun 2008 meningkat jumlahnya menjadi 900 produk. Kondisi di atas menunjukkan persaingan yang semakin ketat antar pelaku industri pestisida.

Dalam kegiatan pertemuan tersebut dihadiri kelompok tani, Taruna tani dan Kelompok wanita tani bekerja sama dengan Forum LATUBO dan dihadiri 400 peserta, setiap perusahaan pestisida membuka setand dan mengadakan penyuluhan masing-masing setand, salah satu pesertan Zaenal Mustofa dari kecamatan Balen sangat seneng dengan adanya pertemuan tersebut dari situ masyarakat  bisa mengenal beberapa produk pestisida dan mendapat penjelasan langsung dari perusahan, banyak hadiah yang disiapkan perusahaan pestisida untuk petani yang aktif dan membeli produk.

Eko dari salah satu panitia dan anggota Forum LATUBO menjelaskan acara tersebut bentuk kepedulian dari temen - temen untuk ikut serta mensukseskan program pemerintah sabagai Lumbung Pangan dengan mengawal petani untuk meningkatkan 10  Ton per hektar. Harapnya petani bisa bekerjasama dan mempunyai semangat untuk ikut serta.



Share:

Selasa, 24 Maret 2015

PERUBAHAN CUACA BERDAMPAK DI PERTANIAN


Setelah Indonesia mengalami musim kemarau basah seperti saat ini masyarakat umum seakan semakin yakin bahwa perubahan iklim adalah fakta bukan mitos.
Masih segar dalam ingatan masyarakat tahun 2009 Indonesia mengalami iklim kering El Nino walau tidak seekstrem seperti tahun 1997,  2002 dan 2007. Pertemuan suhu muka laut yang sangat dingin di Samudra Pasifik (Daerah Nino 3,4) dan suhu perairan Indonesia yang hangat diperkirakan akan menimbulkan curah hujan dengan intensitas tinggi di Indonesia bahkan sampai musim panen raya 2011. Perubahan iklim yang dimaksud adalah perubahan setiap parameter iklim seperti perubahan cuaca ekstrem curah hujan arah angin dan sebagainya.

Genangan air berlebihan meningkatkan peluang rawan banjir di persawahan menjadi 3 persen dan peluang puso biji hampa sampai 14 persen.   Sementara musim kering ekstrem akan meningkatkan peluang kekeringan di persawahan menjadi 8 persen dan peluang puso sampai 2 persen.  Secara keseluruhan perubahan iklim ekstrem berpeluang menurunkan produksi pangan sampai 10 persen (Irsal Las dan kawan kawan, 2009) joka negara tidak melakukan apa apa.
Estimasi di atas belum mempertimbangkan ancaman lain karena perubahan iklim ekstrem juga akan memunculkan wabah hama dan penyakit tanaman. Pemanasan global karena meningkatnya konsentrasi karbon dioksida di udara adalah salah satu bentuk dari perubahan iklim karena terganggunya aktivitas tanaman dan pepohonan untuk menambat karbon.  Dalam konteks makro sektor pertanian seharusnya mampu menjadi solusi adaptasi bukan hanya dianggap penyebab perubahan iklim.  Sistem wanatani agroforestry memungkinkan penambatan gas karbon di udara karena pola tumpang sari tanaman pangan dan pepohonan atau buah buahan dapat meredam perubahan iklim mengurangi laju erosi atau degradasi lahan sekaligus mampu memberikan tambahan pendapatan petani.
Alasan fenomena perubahan iklim ekstrem seakan memperoleh pembenaran politis bahwa musim (baca :  Tuhan)  tidak sedang bersahabat dengan pertanian Indonesia.   Saat ini, BPS menghitung ulang angka ramalan produksi beras dan pangan lain yang akan diumumkan awal November 2010. Sesuatu yang harus diperbaiki pada metode estimasi produksi beras adalah faktor indeks pertanaman (IP)  yang perlu lebih realistis tidak hanya berdasarkan pada aspek curah hujan dan penggimaan faktor produksi atau aspek budidaya,  tetapi pada peluang terjadinya penurunan  produksi atau gagal panen karena beberapa faktor baru yang belum dipertimbangkan sebelumnya.
Taruhlah pengukuran produktivitas padi yang diperoleh dari sampel ubinan (2, 5 meter x  2, 5 meter)  oleh petugas statistik di lapangan mendekati akurat.  Akurasi estimasi angka produksi pangan akan lebih banyak ditentukan oleh variabel luas panen yang sangat bergantung pada faktor IP di atas,  dan ketajaman mata petugas pertanian di lapangan memperkirakari luas tanam sawah petani.  Idealnya semua petugas pertanian di lapangan menguasai dan melengkapi dirinya dengan alat ukur sederhana seperti GPS  (global positioning system),   sehingga sekaligus mampu memantau alih fungsi lahan pertanian pangan menjadi kegunaan lain.
Pada era perubahan iklim mi masa depan pertanian Indonesia tidak dapat mengandalkan perencanaan dan implementasi kebijakan sebagaimana biasa.   Pembangunan pertanian ke depan memerlukan ketepatan kombinasi aplikasi sains dan inovasi teknologi yang berbasis presisi dan obyektivitas dengan kearifan lokal berdasar prinsip adaptabilitas kemanfaatan dan kemaslahatan.  Di tingkat kebun percobaan para peneliti telah banyak menghasilkan inovasi varietas baru berbasis bioteknologi konvensional dan modern adaptif perubahan iklim.
Di tingkat kebijakan kejelasan posisi Indonesia untuk lebih promotif terhadap penggunaan bioteknologi terutama yang dihasilkan di dalam negeri amat sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, dan sebagainya.  Muara dari perubahan kebijakan ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat Indonesia.  Di tingkat lebih aplikatif pemerintah telah mengembangkan kegiatan yang mengarah pada adaptasi pembahan ildim seperti Sekolah Lapang Pengelola Pertanian Terpadu, Sekolah Lapang Perubahan Iklim, Sistem Tanam Benih Langsung dan sebagainya.   Namun daya jangkau program tersebut terbatas belum menyentuh seluruh 17, 8 juta rumah tangga petani pangan di Indonesia.
Sistem penyuluhan cara lama seperti latihan dan kunjungan perlu disempurnakan dan dikombinasikan dengan teknik pendampingan dan pemberdayaan petani dengan peta jalan yang lebih sistematis.  Kini momentum yang tepat untuk memperbaiki kerja sama pemerintah (pusat dan daerah)  dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian di seluruh Indonesia yang merupakan sumber informasi sains dan teknologi. Hubungan yang cenderung transaksional perlu diubah menjadi hubungan fungsional untuk membantu petani dan mempersiapkan kapasitas petani dan pelaku, dan menghadapi era perubahan iklim Dengan menjadi mitra petani merasa terbantu bukan sekadar obyek kajian dan pembinaa
Share:

PEMBERDAYAAN PATRA DI KECAMATAN MALO


PATRA_ Menindaklanjuti kegiatan pemberdayaan untuk para taruna tani PATRA melakukan kegiatan di Kecamatan Malo yang dihadiri dari Dinas pertanian Kasi SDM Bapak Joko PW, dan Camat Malo, Kepala UPTD Malo, Koramil,Bapak Iskak Riyanto selaku inisiator PATRA dan Ketua PATRA Yaumitdin Sugianto.

Dalam Sambutanya Camat Malo sangat senang dengan adanya kegiatan PATRA ini yang lebih menyentuh generasi muda yang sekarang hampir di sawah gak ada generasi muda,lebih dari 75 % petani kita masih di atas usia produktif. Dalam harapanya taruna tani harus lebih aktif energi  untuk ikut meningkatkan produktivitas para petani dengan menyalurkan dan menyampaikan sistem baru atau inovasi baru.

Pak Joko dalam arahanya peran generasi muda atau petani muda dalam pembangunan bangsa Indonesia sangatlah penting dan memegang peranan sentral, baik perjuangan yang dilakukan secara fisik maupun dari pengabdian. sebagai agent perubahan, sudah sepatutnya kita turut membela serta memajukan bangsa indonesia di kancah internasional. dengan semangat patrotisme serta semangat belajar yang tinggi dalam pertanian yang kita miliki, mari kita bangun bangsa kita menuju bangsa yang lebih sejahtera.
Karena kalau bukan kita, trus siapa lagi yang mau meneruskan perjuangan bangsa kita. Menghadapi pasar bebas pak Joko berpesan sebagai generasi bangsa ujung tombak bangsa kita selayaknya harus bisa membantu kedaulatan pangan melihat kondisi sekarang yang tingkat pertumbuhan tinggi tidak sebanding dengan tingkat bahan pangan kita.

Petani harus bisa mengolah hasil pertanian sehingga bisa menghasilkan keutungan dengan tidak hanya menjual hasil pertanianya saja tapi lebih mengolah hasil pertanianya untuk itu peran pemuda sangatlah penting dalam meningkatkan kesejahtraan masyarakat.

Share:

Senin, 23 Maret 2015

PERTANIAN MASA DEPAN






Perubahan gaya hidup dan cara pandang terhadap pangan masyarakat Indonesia pada masa yang akan datang akan berubah. Kecenderungan karakter konsumen yang akan terjadi pada masa depan dan sudah mulai dapat dirasakan saat ini antara lain adalah tuntutan konsumen terhadap keamanan, nilai gizi, cita rasa, dan ketersediaan pangan akan meningkat pesat. Pada masa depan akan semakin banyak orang yang makan di luar rumah, dan semakin banyak makanan instan di rumah. Keamanan dan mutu pangan akan menjadi isue penting, walaupun mungkin ketahanan pangan masih menjadi isue yang tidak kalah penting. Di Indonesia, pasar modern (hypermarket, supermarket, minimarket) akan tumbuh dengan laju pertumbuhan yang sangat tinggi. Walaupun jumlah supermarket chain besar berkurang, tetapi yang bertahan makin besar, sehingga keseimbangan kekuatan bergesar dari produsen/petani ke perusahaan multinasional. Kondisi ini akan menyebabkan adanya kompetisi antara produk pangan domestik dengan produk impor (yang sering kali lebih berkualitas dengan harga yang lebih murah). Tuntutan konsumen terhadap produk pertanian pada masa depan akan semakin meningkat, yang mau tidak mau, akan mempengaruhi kecenderungan manajemen produksi tanamanan. Tuntutan konsumen tersebut antara lain adalah:
1. Produk pertanian harus benar-benar aman, bebas dari cemaran, racun, pestisida, & mikroba berbahaya bagi kesehatan. Aturan mengenai batas maksimum residu (MRL = maximum reside limit) pestisida akan semakin ketat, sehingga akan mempengaruhi pengelolaan dalam perlindungan tanaman. Produk pangan juga harus bebas dari kandungan zat berbahaya, termasuk logam berat dan racun. Keracunan sianida dari singkong, Hg dari ikan, Pb dari kangkung dan sebagainya tidak akan terjadi lagi. Produk juga harus bebas dari berbagai cemaran. Bahan pengawet dan pewarna yang tidak diperuntukkan untuk pangan, seperti formalin, tidak akan digunakan sama sekali. Kasus pencampuran minyak solar ke CPO seperti yang terjadi pada beberapa waktu yang lalu tidak akan terjadi lagi. Cemaran biologi, baik yang berbahaya bagi kesehatan manusia maupun bagi pertanian akan dicegah. Sanitary and Phytosanitary Measures akan semakin diperketat di karantina. Peneliti Indonesia harus mempersiapkan diri menghadapi hal-hal tersebut.
2. Produk pangan juga dituntut mempunyai nilai gizi tinggi dan mengandung zat berkhasiat untuk kesehatan. Konsumen menghendaki informasi mengenai kandungan fitokimia yang berkhasiat untuk meningkatkan kesehatan dalam produk pangan. Karena itu penelitian mengenai manfaat produk-produk pertanian tanaman pangan Indonesia perlu mulai segera dilakukan. Pengetahuan indigenous mengenai manfaat produk pangan perlu dibuktikan secara ilmiah dan diketahui apa fitokimia yang terkandung di dalamnya.
3. Produk pangan juga harus mempunyai mutu tinggi, tidak sekedar enak. Mutu adalah segala hal yang menunjukkan keistimewaan atau derajad keunggulan sesuatu produk. Mutu atau kualitas juga dapat dipahami sebagai kecocokan suatu produk dengan tujuan dari produksi. Dengan demikian, mutu merupakan gabungan dari sifat-sifat atau ciri-ciri yang memberikan nilai kepada setiap komoditas yang terkait dengan maksud penggunaan komoditas tersebut. Secara singkat mutu termasuk semua hal yang dapat memuaskan pelanggan. Menurut versi Codex Alimentarius Standar mutu termasuk masalah tampilan produk seperti keutuhan, keseragaman, kebebasan dari cacat, hama dan penyakit, tingkat kematangan, kesegaran, kebersihan, ketahanan dalam transportasi dan penanganan, dan kemampuan agar mutu produk bertahan tetap baik sampai tujuan. Kelas, kode ukuran, kemasan dan label juga menjadi hal yang penting dalam mutu produk. Produsen pertanian perlu melakukan pembenahan dalam sistem produksinya agar dapat memenuhi kepentingan konsumen.
4. Produk pertanian harus diproduksi dengan cara yang tidak menurunkan mutu lingkungan. Tuntutan terhadap kelestarian lingkungan akan semakin ketat, padahal pada saat yang sama tekanan populasi terhadap sumberdaya lahan semakin kuat. Karena itu peneliti Indonesia perlu mengembangkan teknologi pertanian yang dapat menjamin produksi pangan yang memenuhi tututan konsumen namun tetap dapat menjaga kelestarian lingkungan, mencegah pencemaran tanah dan air, mencegah erosi dan hal-hal lain yang menyebabkan penurunan kualitas lingkungan.
5. Produk pertanian juga harus diproduksi dengan memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan petani dan pekerja.
6. Mempunyai traceability. Cara produksi pangan harus dapat dirunut dari pasar sampai kebun. Data-data harus transparan dan jujur. Karena itu catatan aktivitas di kebun dan rantai pasar harus menajdi perhatian.
7. Produk pangan harus tersedia dalam waktu yang tepat. Selain persyaratan di atas, produk pertanian harus tersedia dan tepat waktu. Untuk produk pangan tertentu kontinyuitas penyediaan menjadi faktor yang sangat penting.
8. Harga jual produk pertanian harus kompetitif. Untuk itu efisiensi dalam produksi, dalam delivery harus dilakukan. Harus dikembangkan supply chain management (SCM) yang berkeadilan dan berorientasi pada nilai produk.
Berdasarkan tuntutan konsumen, masalah yang dihadapi dan kondisi pertanian dan lingkungan pertanian di Indonesia, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi oleh pertanian Indonesia. Tantangan ini harus dijawab oleh para ilmuwan pertanian. Tantangan tersebut meliputi:
1. Bagaimana menghasilkan produk pertanian dengan harga yang wajar bagi bagi populasi yang terus bertambah.
2. Bagaimana meningkatkan hasil per satuan luas (produktivitas); karena perluasan areal sudah semakin sulit.
3. Bagaimana menghasilkan lebih banyak produk pertanian dengan menggunakan air lebih sedikit.
4. Bagaimana menghasilkan produk pertanian yang lebih aman, bermutu dan bernilai bagi konsumen.
5. Bagaimana menghasilkan produk pertanian tanpa menurunkan potensi sumberdaya lahan dan lingkungan.
6. Bagaimana cara menjamin ketersediaan yang kontinyu produk pertanian yang secara alami bersifat musiman.
7. Bagaimana menghasilkan produk pertanian yang mensejahterakan petani.
8. Bagaimana meningkatkan daya saing global pertanian Indonesia. Seperti diuraikan di atas, dayasaing produk pertanian akan ditentukan oleh kuantitas, kualitas, keamanan, kontinyuitas pasokan, ketepatan delivery, kompetitif dalam harga, dan adanya traceability (6K+T).
Strategi untuk Meraih Keunggulan Pertanian Indonesia
Visi pertanian Indonesia adalah menjadi pertanian tangguh dan modern berbasis pada pengelolaan sumberdaya alam dan genetik secara berkelanjutan yang menjamin ketahanan, keamanan dan mutu pangan, penyediaan bahan baku industri dan kesejahteraan petani, serta berdaya saing global.
Untuk mencapai visi tersebut strateginya meliputi:
1. Pengembangan Sumberdaya Manusia. Pengembangan SDM pertanian tidak hanya dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dalam penerapan teknologi pertanian, tetapi juga untuk meningkatkan motivasi dan persepsi tentang pertanian modern, dan juga untuk perbaikan moral, transformasi tradisi dan kultur menjadi pertanian berbudaya industri.
2. Penyempurnaan Kelembagaan Petani dan Pertanian. Salah satu penyebab rendahnya daya saing pertanian Indonesia adalah sempitnya lahan pertanian yang dikelola petani. Dalam kondisi seperti itu, petani pada umumnya mengelola lahan sempitnya secara sendiri-sendiri, tidak ada konsolidasi dalam pengelolaan lahan. Karena itu kelembagaan petani juga harus disempurnakan. Rekayasa sosial, penguatan kelembagaan, dan pendampingan oleh pakar menjadi kunci penting untuk peningkatan daya saing produk pertanian Indonesia. Rekayasa sosial seperti pengembangan Komunitas Estate Padi (KEP) yang sedang dikembangkan oleh Faperta IPB, program sarjana masuk desa yang dikembangkan LPPM dengan BULOG, dan aktivitas sejenisnya perlu dikembangkan untuk pemberdayaan dan peningkatan mutu SDM pertanian.
3. Peningkatan Produktivitas dan Efisiensi. Produktivitas dan efisiensi dapat ditingkatkan antara lain dengan penerapan teknologi yang tepat. Good Agriculture Practices, Good Handling Practices, dan Good Manufacturing Practices, menjadi salah satu pilar dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Untuk mendukung hal tersebut diperlukan sarana dan prasarana yang memadai, antara lain adalah: peta perwilayahan komoditas, sumber air irigasi yang mencukupi, jalan usahatani yang mendukung penyaluran hasilpertanian, perusahaan pembibitan yang profesional, laboratorium analisis tanah, stasiun meteorologi yang dapat memberikan informasi cuaca yang dapat diandalkan, klinik tanaman, laboratorium pengendali kualitas dan sarana pasca panen dan gudang yang memadai.
4. Peningkatan Nilai Tambah Produk Pertanian. Peningkatan nilai tambah diarahkan kepada peningkatan pendapatan masyarakat petani dan perdesaan di luar kegiatan on farm, sekaligus mendukung kebijakan lahan pertanian, dengan banyaknya peluang pendatan dari kegiatan off farm. Peningkatan nilai tambah dapat dicapai melalui Pengembangan industri pertanian, pengembangan infrastruktur pertanian dan pedesaan, penguatan kelembagaan, profesionalisme tenaga kerja, sistem mutu produk pertanian, dan peningkatan daya saing produk dan pemasaran.
5. Usaha untuk Kemandirian Pangan. Strategi kemandirian pangan diarahkan pada pemenuhan pangan nasional secara mandiri berdasarkan sumberdaya alam, kemampuan produksi dan kreativitas masyarakat. Keanekaragaman pangan ditingkatkan baik sumber maupun bentuk dan citarasa hasil olahan dengan basis tepung sebagai produk antara bahan pangan. Kemandirian pangan diupayakan melalui diversifikasi pangan, pengembangan infrastruktur pertanian dan pedesaan dan pengembangan budaya industri di pedesaan. Dengan keberhasilan diversifikasi pangan, konsumsi beras diperkirakan akan turun menjadi 90 kg/kapita/tahun.
6. Pengelolaan Lingkungan Hidup yang Produktif dan Lestari. Pengelolaan lingkungan hidup yang produktif dan lestari diarahkan untuk terpeliharanya daya dukung lingkungan dengan produktivitas yang tinggi secara berkelanjutan, keaneka ragaman hayati serta keseimbangan interaksi antara semua unsur dan faktor lingkungan. Pengelolaan lingkungan yang produktif dan lestari dilaksanakan melalui upaya pengembangan sumberdaya alam secara lestari, pemberdayaan masyarakat, reklamasi lahan, perluasan areal pertanian dan pengadaan lahan pertanian pangan abadi.
7. Penyempurnaan Sistem Pemasaran Produk Pertanian. Perlu dilakukanj pemberdayaan rantai pasar dengan Penerapan Supply-Chain Management, sehingga tipe dan karateristik hubungan bisnis berubah dari tipe transaksional menajdi tipe partneship sperti pada Gambar 1. Sehingga rantai pasokan ideal seperti pada Gambar 2 bisa tercapai.
8. Kebijakan Makro yang Mendukung Pertanian. Untuk mendukung semua hal di atas, perlu kebijakan makro yanh mendukung pertanian, ialah: (a) pertanian menjadi platform pembangunan nasional, (b) akses pertanian terhadap lahan, modal, teknologi dan informasi memadai, (c) infrastruktur pertanian dan yang mendukung pertanian dikembangkan, (d) sektor industri dan jasa berkembang dengan pesat sehingga mampu menyerap tenaga kerja dari perdesaan dan sektor pertanian, (e) dilakukan pemberdayaan masyarakat perdesaan.
Pola Pertanian pada Masa Depan
Menghadapi tantangan yang makin besar tersebut, pertanian masa depan tidak akan bisa bertahan hanya dengan pola seperti pertanian saat ini (konvensional). Tetapi pertanian konvensional masih akan memegang peran yang cukup penting. Pada masa yang akan datang akan ada 3 pola pertanian penting, ialah (1) Pertanian Konvensional; (2) Pertanian Konservasi; (3) Pertanian dengan Teknologi Tinggi. Pada masa 5-10 tahun ke depan, di Indonesia pertanian konvensional akan tetap dominan, namun masukan teknologi pada pola ini akan semakin tinggi.
Pertanian konvensional adalah pertanian seperti yang dilakukan oleh sebagian besar petani di seluruh dunia saat ini. Pertanian ini mengandalkan input dari luar sistem pertanian, berupa energi, pupuk, pestisida untuk mendapatkan hasil pertanian yang produktif dan bermutu tinggi. Pada masa yang akan datang sistem pertanian ini akan lebih ramah lingkungan bersamaan dengan lebih banyak input teknologi. Perkembangan atau kemajuan pertanian konvensional pada masa depan dibandingkan masa sekarang terjadi karena peran penelitian bidang ekofisiologi dan pumuliaan tanaman, serta karena tuntutan masyarakat. Kemajuan itu antara lain berupa:
1. Digunakannya varietas-varietas tanaman yang lebih produktif, lebih bermutu, lebih tahan atau toleran pada hama dan penyakit utama, lebih tahan pada kekurangan air dan hara, serta dapat berproduksi tinggi pada lahan-lahan marginal.
2. Lebih memanfaatkan biota di lingkungan pertanian, baik untuk meningkatkan kesuburan lahan, maupun toleransi terhadap OPT.
3. Penggunaan pupuk akan lebih bijaksana, berdasarkan Integrated Plant nutrition System, sehingga tidak berlebih, berdasarkan kebutuhan riel tanaman, tidak banyak yang tercuci dan mencemari lingkungan.
4. Penggunaan pestisida akan sangat berkurang; pengendalian organisme pengganggu tanaman akan berdasarkan PHT.
5. Konsolodasi lahan-lahan pertanian akan terjadi, sehingga pengelolaan sistem produksi akan lebih mudah.
6. Tenaga kerja di pertanian berkurang karena urbanisasi dan menjadi pekerja pada sektor industri, sehingga:
a. terjadi peningkatan mekanisasi pertanian,
b. input energi biologi (tenaga ternak atau tenaga manusia) akan banyak diganti energi mekanik berbasis biologi, seperti biodisel maupun bioetanol,
c. daya tawar petani dan buruh tani lebih tinggi, sehingg kesejahteraannya meningkat.
7. Produktivitas pertanian akan meningkat lagi setelah leveling off yang terjadi bisa diatasi. Produksinya juga lebih bermutu, lebih bergizi, lebih aman karena sistem pertanian dikelola dengan lebih baik.
8. Petani akan mempunyai catatan pertanian, sehingga tuntutan terhadap traceability dapat dipenuhi.
Pertanian Konservasi juga akan meluas. Ada kelompok-kelompok masyarakat yang mempunyai tuntutan terhadap pangan yang bebas pestisida dan bebas dari pupuk kimia, serta kelompok yang ingin agar pertanian tidak mencemari lingkungan. Dua kelompok masyarakat ini akan semakin besar di dunia, demikian pula di Indonesia. Produktivitas sistem ini pada umumnya rendah, lebih-lebih pada beberapa tahun kemudian; mutu fisik/visual produk juga rendah, tetapi keamanannya tinggi dan dipercaya oleh sebagian konsumen nilai zat berkhasiatnya yang terkadung di dalamnya tinggi. Namun, karena adanya permintaan yang semakin besar dari kelompok-kelompok ini akan mendorong semakin luasnya pertanian konservasi. Pada pertanian konservasi, prinsip utamanya adalah pertanian yang mengandalkan dan berusaha mempertahankan kelestarian alam. Dengan pertanian konservasi diusahakan agar tidak terlalu banyak gangguanan ekosistem dalam alam pertanian. Pertanian ini lebih mengandalkan mekanisme ekobiologi dari alam sehingga input yang diberikan pada sistem pertanian ini diusahakan serendah mungkin. Kalaupun intu diberikan, maka input tersebut berupa bahan-bahan organik alamiah yang bukan hasil budaya. Studi ekofisiologi akan memegang peran penting dalam meningkatkan produktivitas dan kelestarian sistem ini.
Pertanian Teknologi Tinggi juga akan meningkat pada masa depan. Pertanian ini akan sngat produktif, produknya bermutu tinggi, aman, kandungan gizi dan zat berkhasiat yang ada di dalamnya bisa diatur sesuai kebutuhan. Karena itu, pertanian ini memerlukan input tinggi, baik berupa teknologi, bahan-bahan kimia maupun energi. Pertanian ini bisa mengatasi kendala dan hambatan alam, bisa sangat efisien tepai bisa juga tidak efisien. Pertanian ini juga mungkin tidak menyebabkan degradasi lahan pertanian, maupun alam sekitar karena tidak mengandalkan alam dalam produksi. Pertanian ini lebih mengandalkan teknologi dan input dari hasil budaya. Pertanian ini hanya akan melibatkan pemodal besar, bukan petani. Karena itu ada beberapa hal yang harus mendapat perhatian
Share:

Sabtu, 21 Maret 2015

PENERAPAN PADI SALIBU KECAMATAN SUKOSEWU



PATRA - Petani di Desa Sukosewu, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, mencoba mengembangkan budidaya padi Salibu yang terbukti mampu meningkatkan produksi beras.

"Budidaya padi Salibu dapat meningkatkan panen, dari sekali tanam bisa tiga sampai enam kali panen, serta mengurangi biaya produksi hingga Rp2 jutaan per hektare," kata salah satu peserta kunjungan di malang.

Ia menyebut budidaya padi Salibu merupakan salah satu inovasi teknologi untuk memacu peningkatan produksi beras.

"Teknologi ini dapat menanggulangi keterbatasan varietas unggul, karena pertumbuhan tanaman selanjutnya, sehingga mutu varietas tetap sama dengan tanaman awal," katanya.

Sementara itu, Kasi SDM Joko PW, mengatakan bahwa keberhasilan budidaya padi Salibu dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni tinggi pemotongan batang varietas yang digunakan, kondisi ari tanah setelah panen, dan pemupukan tanaman.

"Pertumbuhan tunas setelah dipotong sangat dipengaruhi oleh ketersedian air tanah, dan pada saat panen sebaiknya tanah dalam kondisi kapasitas lapang," katanya.

Ia menyebut program ini merupakan suatu bentuk perhatian pemerintah daerah terhadap kesejahteraan petani demi meningkatkan nilai ekonomi dan mencapai tujuan ketahanan pangan.

Kepala UPTD Sukosewu, Qomarudin, menjelaskan, padi Salibu merupakan tanaman padi yang tumbuh lagi setelah batang sisa panen dipotong, tunas akan muncul dari buku yang ada di dalam tanah tunas, mengaluarkan akar baru sehingga suplai hara tidak lagi tergantung pada batang lama.

"Tunas ini bisa membelah atau bertunas lagi seperti padi tanaman pindah biasa, inilah yang membuat pertumbuhan dan produksinya sama atau lebih tinggi dibanding tanaman awalnya," katanya.

  Qomar menambahkan pertumbuhan tunas setelah dipotong sangat dipengaruhi oleh ketersedian air tanah, dan pada saat panen sebaiknya kondisi air tanah dalam keadaan kapasitas lapang.

"Untuk mengimbangi kebutuhan unsur hara pada masa pertumbuhan anakan, padi Salibu perlu pemupukan yang cukup, terutama hara nitrogen," ujarnya.

Unsur nitrogen merupakan komponen utama dalam sintesis protein, sehingga sangat dibutuhkan pada fase vegetatif tanaman, khususnya dalam proses pembelahan sel.

"Tanaman yang cukup mendapatkan nitrogen memperlihatkan daun yang hijau tua dan lebar, fotosintesis berjalan dengan baik,unsur nitrogen adalah faktor penting untuk produktivitas tanaman,"

Salah satu petani parman mengaku para petani akan menerapkan jika hasilnya bisa maksimal ketakutan petani akan hasil yang tidak bisa maksimal dan cenderung perawtanya yang lebih rentan ham atau penyakit.
Share:

Selasa, 17 Maret 2015

BUDIDAYA DAN KEUNGGULAN METODE SRI

BUDIDAYA DAN KEUNGGULAN METODE SRI (System of Rice Intensification)




  1. Inovasi metode SRI
    SRI adalah teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktifitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsur hara, terbukti telah berhasil meningkatkan produktifitas padi sebesar 50% , bahkan di beberapa tempat mencapai lebih dari 100%. Metode ini pertama kali ditemukan secara tidak disengaja di Madagaskar antara tahun 1983 -84 oleh Fr. Henri de Laulanie, SJ, seorang Pastor Jesuit asal Prancis yang lebih dari 30 tahun hidup bersama petani-petani di sana. Oleh penemunya, metododologi ini selanjutnya dalam bahasa Prancis dinamakan Ie Systme de Riziculture Intensive disingkat SRI. Dalam bahasa Inggris populer dengannama System of Rice Intensification disingkat SRI.Tahun 1990 dibentuk Association Tefy Saina (ATS), sebuah LSM Malagasy untuk memperkenalkan SRI. Empat tahun kemudian, Cornell International Institution for Food, Agriculture and Development (CIIFAD), mulai bekerja sama dengan Tefy Saina untuk memperkenalkan SRI di sekitar Ranomafana National Park di Madagaskar Timur, didukung oleh US Agency for International Development. SRI telah diuji di Cina, India, Indonesia, Filipina, Sri Langka, dan Bangladesh dengan hasil yang positif. SRI menjadi terkenal di dunia melalui upaya dari Norman Uphoff (Director CIIFAD). Pada tahun 1987, Uphoff mengadakan presentase SRI di Indonesia yang merupakan kesempatan pertama SRI dilaksanakan di luar Madagaskar Hasil metode SRI sangat memuaskan. Di Madagaskar, pada beberapa tanah tak subur yang produksi normalnya 2 ton/ha, petani yang menggunakan SRI memperoleh hasil panen lebih dari 8 ton/ha, beberapa petani memperoleh 10 – 15 ton/ha, bahkan ada yang mencapai 20 ton/ha. Metode SRI minimal menghasilkan panen dua kali lipat dibandingkan metode yang biasa dipakai petani. Hanya saja diperlukan pikiran yang terbuka untuk menerima metode baru dan kemauan untuk bereksperimen.Dalam SRI tanaman diperlakukan sebagai organisme hidup sebagaimana mestinya, bukan diperlakukan seperti mesin yang dapat dimanipulasi. Semua unsur potensi dalam tanaman padi dikembangkan dengan cara memberikan kondisi yang sesuai dengan pertumbuhannya.
  2. Prinsip-prinsip budidaya padi organik metode SRI
    1. Tanaman bibit muda berusia kurang dari 12 hari setelah semai (hss) ketika bibit masih berdaun 2 helai
    2. Bibit ditanam satu pohon perlubang dengan jarak 30 x 30, 35 x 35 atau lebih jarang
    3. Pindah tanam harus sesegera mungkin (kurang dari 30 menit) dan harus hati-hati agar akar tidak putus dan ditanam dangkal
    4. Pemberian air maksimal 2 cm (macak-macak) dan periode tertentu dikeringkan sampai pecah (Irigasi berselang/terputus)
    5. Penyiangan sejak awal sekitar 10 hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10 hari
    6. Sedapat mungkin menggunakan pupuk organik (kompos atau pupuk hijau)
     
  3. Keunggulan metode SRI
    1. Tanaman hemat air, Selama pertumbuhan dari mulai tanam sampai panen memberikan air max 2 cm, paling baik macak-macak sekitar 5 mm dan ada periode pengeringan sampai tanah retak ( Irigasi terputus)
    2. Hemat biaya, hanya butuh benih 5 kg/ha. Tidak memerlukan biaya pencabutan bibit, tidak memerlukan biaya pindah bibit, tenaga tanam kurang dll.
    3. Hemat waktu, ditanam bibit muda 5 – 12 hss, dan waktu panen akan lebih awal
    4. Produksi meningkat, di beberapa tempat mencapai 11 ton/ha
    5. Ramah lingkungan, tidak menggunaan bahan kimia dan digantikan dengan mempergunakan pupuk organik (kompos, kandang dan Mikro-oragisme Lokal), begitu juga penggunaan pestisida.
     
  4. Teknik Budidaya Padi Organik metode SRI
    1. Persiapan benih
      Benih sebelum disemai diuji dalam larutan air garam. Larutan air garam yang cukup untuk menguji benih adalah larutan yang apabila dimasukkan telur, maka telur akan terapung. Benih yang baik untuk dijadikan benih adalah benih yang tenggelam dalam larutan tersebut. Kemudian benih telah diuji direndam dalam air biasa selama 24 jam kemudian ditiriskan dan diperam 2 hari, kemudian disemaikan pada media tanah dan pupuk organik (1:1) di dalam wadah segi empat ukuran 20 x 20 cm (pipiti). Selama 7 hari. Setelah umur 7-10 hari benih padi sudah siap ditanam.
    2. Pengolahan tanah
      Pengolahan tanah Untuk Tanam padi metode SRI tidak berbeda dengan cara pengolahan tanah untuk tanam padi cara konvesional yaitu dilakukan untuk mendapatkan struktur tanah yang lebih baik bagi tanaman, terhidar dari gulma. Pengolahan dilakukan dua minggu sebelum tanam dengan menggunakan traktor tangan, sampai terbentuk struktur lumpur. Permukaan tanah diratakan untuk mempermudah mengontrol dan mengendalikan air.
    3. Perlakuan pemupukan
      Pemberian pupuk pada SRI diarahkan kepada perbaikan kesehatan tanah dan penambahan unsur hara yang berkurang setelah dilakukan pemanenan. Kebutuhan pupuk organik pertama setelah menggunakan sistem konvensional adalah 10 ton per hektar dan dapat diberikan sampai 2 musim taman. Setelah kelihatan kondisi tanah membaik maka pupuk organik bisa berkurang disesuaikan dengan kebutuhan. Pemberian pupuk organik dilakukan pada tahap pengolahan tanah kedua agar pupuk bisa menyatu dengan tanah.
    4. Pemeliharaan
      Sistem tanam metode SRI tidak membutuhkan genangan air yang terus menerus, cukup dengan kondisi tanah yang basah. Penggenangan dilakukan hanya untuk mempermudah pemeliharan. Pada prakteknya pengelolaan air pada sistem padi organik dapat dilakukan sebagai berikut; pada umur 1-10 HST tanaman padi digenangi dengan ketinggian air ratarata 1cm, kemudian pada umur 10 hari dilakukan penyiangan. Setelah dilakukan penyiangan tanaman tidak digenangi. Untuk perlakuan yang masih membutuhkan penyiangan berikutnya, maka dua hari menjelang penyiangan tanaman digenang. Pada saat tanaman berbunga, tanaman digenang dan setelah padi matang susu tanaman tidak digenangi kembali sampai panen.
      Untuk mencegah hama dan penyakit pada SRI tidak digunakan bahan kimia, tetapi dilakukan pencengahan dan apabila terjadi gangguan hama/penyakit digunakan pestisida nabati dan atau digunakan pengendalian secara fisik dan mekanik
     
  5. Pertanian Padi Organik Metode SRI dan Konvesional
    Sistem tanam padi SRI, pada prakteknya memiliki banyak perbedaan dengan sistem tanam Konvensional (Tabel 3)Tabel 3. Perbedaan sisten tanam padi Organik SRI dengan sistem Konvensional
    Tabel 3
    Keterangan: HSS = Hari setelah semai
  6. Perbedaan Hasil Cara SRI dengan Konvensional
    Kebutuhan pupuk organik dan pestisida untuk padi organik metode SRI dapat diperoleh dengan cara mencari dan membuatnya sendiri. Pembuatan kompos sebagai pupuk dilakukan dengan memanfaatkan kotoran hewan, sisa tumbuhan dan sampah rumah tangga dengan menggunakan aktifator MOL (Mikro-organisme Lokal) buatan sendiri, begitu pula dengan pestisida dicari dari tumbuhan behasiat sebagai pengendali hama. Dengan demikian biaya yang keluarkan menjadi lebih efisien dan murah.
    Penggunaan pupuk organik dari musim pertama ke musim berikutnya mengalami penurunan rata-rata 25% dari musim sebelumnya. Sedangkan pada metode konvensional pemberian pupuk anorganik dari musim ke musim cenderung meningkat, kondisi ini akan lebih sulit bagi petani konvensional untuk dapat meningkatkan produsi apalagi bila dihadapkan pada kelangkaan pupuk dikala musim tanam tiba.
    Pemupukan dengan bahan organik dapat memperbaiki kondisi tanah baik fisik, kimia maupun biologi tanah, sehingga pengolahan tanah untuk metode SRI menjadi lebih mudah dan murah, sedangkan pengolahan tanah yang menggunakan pupuk anorganik terus menerus kondisi tanah semakin kehilangan bahan organik dan kondisi tanah semakin berat, mengakibatkan pengolahan semakin sulit dan biaya akan semakin mahal. Tabel.4. Analisa Usaha Tani Cara Konvensional dan metode SRI setelah musim ke 2 dalam 1 ha
    Tabel 4
    Hasil panen pada metode SRI pada musim pertama tidak jauh berbeda dengan hasil sebelumnya (metode konvensional) dan terus meningkat pada musim berikutnya sejalan dengan meningkatnya bahan organik dan kesehatan tanah. Beras organik yang dihasilkan dari sistem tanam di musim pertama memiliki harga yang sama  dengan beras dari sistem tanam konvesional, harga ini didasarkan atas dugaan bahwa beras tersebut belum tergolong organik, karena pada lahan tersebut masih ada pupuk kimia yang tersisa dari musim tanam sebelumnya. Dan untuk musim berikutnya dengan menggunakan metode SRI secara berturut-turut, maka sampai musim ke 3 akan diperoleh beras organik dan akan memiki harga yang lebih tinggi dari beras padi dari sistem konvensional.

  7. Manfaat Sistem SRI Secara umum manfaat dari budidaya metode SRI adalah sebagai berikut
    1. Hemat air (tidak digenang), Kebutuhan air hanya 20-30% dari kebutuhan air untuk cara konvensional
    2. Memulihkan kesehatan dan kesuburan tanah, serta mewujudkan keseimbangan ekologi tanah
    3. Membentuk petani mandiri yang mampu meneliti dan menjadi ahli di lahannya sendiri. Tidak tergantung pada pupuk dan pertisida kimia buatan pabrik yang semakin mahal dan terkadang langka
    4. Membuka lapangan kerja dipedesaan, mengurangi pengangguran dan meningkatkan pendapatan keluarga petani
    5. Menghasilkan produksi beras yang sehat rendemen tinggi, serta tidak mengandung residu kimia
    6. Mewariskan tanah yang sehat untuk generasi mendatang

  8. KESIMPULAN
    Metode SRI menguntungkan untuk petani, karena produksi meningkat sampai 10 ton/ha, selain itu karena tidak mempergunakan pupuk dan pestisida kimia, tanah menjadi gembur, mikroorganisme tanah meningkat jadi ramah lingkungan.
    Untuk mempercepat penyebaran metode SRI perlu dukungan dengan kebijakan pemerintah pusat maupun daerah.
Share:

JAJAR LEGOWO

Cara Tanam Jajar Legowo










PENDAHULUAN
Perspektif sistem usahatani padi-ikan dalam meningkatkan pendapatan petani adalah jika hasil padi telah mencapai tingkat maksimum sampai batas potensi genetik varietas dan days dukung lingkungan (carrying capacity), maka sasaran program intensifikasi adalah mempertahankan tingkat produktivitas padi dan meningkatkan pendapatan petani.
Rekayasa teknik tanam padi dengan cara tanam jajar legowo 2:1 atau4:l,berdasarkanhasil penelitian terbukti dapat meningkatkan produksi padi sebesar 12-22%. Disamping itu sistem legowo yang memberikan ruang yang luas (lorong) sangat cocok dikombinasikan dengan pemeliharaan ikan (minapadi legowo). Hasil ikan yang diperoleh mampu menutup sebagian biaya usahatani, sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani.
Teknologi legowo merupakan rekayasa teknik tanam dengan mengatur jarak tanam antar rumpun dan antar barisan sehingga terjadi pemadatan rumpun padi dalam barisan dan melebar jarak antar barisan sehingga seolah-olah rumpun padi berada dibarisan pinggir dari pertanaman yang memperoleh manfaat sebagai tanaman pinggir (border effect). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumpun padi yang berada di barisan pinggir hasilnya 1,5 – 2 kali lipat lebih tinggi dibandingkan produksi rumpun padi yang berada di bagian dalam.
KEUNTUNGAN
  • Pada cara tanam jajar legowo 2:1, semua maupun tanaman seolah-olah berada pada barisan pinggir pematang, sedangkan pada cara tanam jajar legowo 4:1, separuh tanaman berada pada bagian pinggir (mendapat manfaat border effect).
  • Jumlah rumpan padi meningkat sampai 33°/a/ha.
  • Meningkatkan produktivitas padi 12-22%.
  • Memudahkan pemeliharaan tanaman.
  • Masa pemeliharaan ikan dapat lebih lama, yaitu70-75 hari. dibanding cara tandur jajar biasa yang hanya 45 hari.
  • Hasil ikan yang diperoleh dapat menutupi sebagian biaya usaha tani.
  • Dapat meningkatkan pendapatan usahatani antara 30-50%.
PAKET TEKNOLOGI
1. Benih padi
Benin padi yang digunakan adalah varietas unggul berlabel sesuai anjuran setempat dengan kebutuhan benih 25 kg/ha.
2. Persemaian
Persemaian seluas 5% luas lahan yang akan ditanami. Pemeliharaan persemaian seperti pada cara tanam padi biasa. Umur persemaian 25-30 hari.
3. Pengolahan tanah
Tanah diolah sempurna (2 kali bajak dan 2 kali garu), dengan kedalaman
olah 15-20 cm. Bersamaan dengan pengolahan tanah dilaksanakan perbaikan pintu pemasukan/ pengeluaran dan perbaikan pematang, jangan sampai ada yang bocor.
4. Pembuatan caren dan saringan
Pembuatan caren palang dan melintang pada saat pengolahan tanah terakhir, lebar 40 – 45 cm dengan kedalaman 25 – 30 cm. Pada titik persilangan dibuat kolam pengungsian ukuran 1×1 m dengan kedalaman 30 cm. Pada setiap pintu pemasukan dan pengeluaran air pada setiap petakan dipasang saringan kawat dan slat pengatur tinggi permukaan air menggunakan bambu.
5. Penanaman padi
Cara tanam adalah jajar legowo 2:1 atau 4:1. Pada jajar legowo 2:1, setiap dua barisan tanam terdapat lorong selebar 40 cm, jarak antar barisan 20 cm, tetapi jarak dalam barisan lebih rapat yaitu 10 cm. Pada jajar legowo 4:1. setiap empat barisan tanam terdapat lorong selebar 40 cm, jarak antar barisan 20 cm, jarak dalam barisan tengah 20 cm, tetapi jarak dalam barisan pinggir lebih rapat yaitu 10 cm.
Untuk mengatur jarak tanam digunakan caplak ukuran mata 20 cm. Pada jajar legowo 2:1 dicaplak satu arah saja, sedangkan pada jajar legowo 4:1 dicaplak kearah memanjang dan memotong.
6. Pengaturan air
Pengaturan air macak-macak 3-4 HST. Setelah 10-15 HST (sesudah penyiangan dm pemupukan susulan pertama) air dimasukkan mengikuti tinggi tanaman.
7. Pemupukan
Pupuk dasar diberikan secara disebar pada satu tanam padi dengan dosis 1/3 bagian Urea dan seluruh dosis SP-36. Pupuk susulan pertama diberikan pada umur 15 HST (sesudah penyiangan) dan pupuk susulan kedua pada umur 45 HST. Dosis pupuk sesuai anjuran setempat.
8. Penyiangan
Penyiangan dilakukan pada umur 10-15 HST (sebelum pemberian pupuk susulan pertama) dan selannjutnya tergantung keadaan gulma.
9. Pengendalian hama dan penyakit
Pengendalian hama penyakit dilakukan dengan sistem perantauan. Hindari penggunaaa pestisida.

Share:

Senin, 16 Maret 2015

ADA PATRA ADA GENERASI BANGSA



Sektor pertanian sampai kapanpun akan memegang peranan yang sangat strategis, karena memiliki pengaruh yang sangat significant terhadap devisa negara.  Pertanian adalah basis Pembangunan (agriculture for development). Tantangan yang dihadapi dunia pertanian Indonesia adalah aging generation. Kategori petani kita 60% sudah menua, cari tenaga petani sulit. Semakin sedikit usia produktif petani akan mengakibatkan kapabilitas SDM pertanian ke depan semakin langka. Padahal kemajuan sektor pertanian sangat membutuhkan ide-ide kreatif dan peran nyata dari generasi muda petani/taruna tani. Untuk itu Mentan sangat mengapresiasi PATRA yang secara tidak langsung telah membantu Kementerian Pertanian (Kementan) dalam meningkatkan SDM pertanian, khususnya generasi muda/taruna tani. “Yang dilakukan oleh PATRA ini menjadi harapan  dan kebanggaan bagi saya, bahwa ini adalah pelatihan yang konkrit, bagaimana menumbuhkan generasi muda yang mencintai pertanian, dan bisa hidup dari pertanian”, ungkap Inisiator PATRA Bojonegoro Ikak Iriyanto..
Lebih lanjut Iskak mengatakan bahwa pertanian adalah potensi agrobisnis yang terus menerus menguntungkan kalau dikelola secara baik dengan skala ekonomi yang memadai. “Jadi, Anda memilih profesi pertanian tidaklah salah”, kata Iskak, seraya mendukung dalam kegiatan PATRA untuk memanfaatkan lembaga-lembaga pertanian yang ada.
Merespon pernyataan Iskak, koordinator PATRA Bojonegoro Yaumitdin Sugianto menegaskan bahwa PATRA siap mendukung untuk program pemerinta dalam swasembada pangan, menciptakan pertanian berkelanjutan yang di inginkan pemerintah. Melihat pemuda - pemuda sekarang yaumitdin berharap ada preoritas untuk menciptakan keyakinan pada petani muda  untuk terjun dibidang pertanian sehingga pertanian tidak di pandang sebagai jalan terakhir dalam menentukan kehidupan.
Dalam menghadapi pasar Global kita di tuntun untuk lebih berfikir keras dalam persaingan pasar untuk itu pemuda-pemudalah harapan bangsa yang menjadi ujung tombak dalam dunia pasar bebas. Petani sekarang harus bisa mengolah hasil pertanian yang ditanam tutur Ketua Patra.
Share:

Jumat, 13 Maret 2015

CARA MEMUPUK BERIMBANG





Penerapan pemupukan berimbang N, P, K dan S untuk tanaman padi, palawija dan sayuran sudah berkembang sejak tahun 1978, namun belum semua petani melakukan sesuai teknologi yang dianjurkan.
Pada umumnya penggunaan pupuk oleh petani masih cenderung kepada penggunaan pupuk N, sedangkan pupuk P, K dan pupuk Organik masih kurang mendapat perhatian.
Anjuran teknologi pemupukan untuk tanaman padi dan palawija didasarkan atas Wilayah Kerja Penyuluhan Pertanian (WKPP) dan anjuran di daerah sudah mencakup penggunaan N, P, K dan S. Khususnya pada tanaman padi , dosis anjuran pemupukan N pada musim hujan lebih rendah daripada musim kemarau pada tingkat dosis P, K dan S yang sama.
Pupuk anroganik utama yang digunakan untuk keperluan tanaman pangan dan hortikultura adalah pupuk Urea, SP-36, KCL dan ZA
Manfaat dari masing-masing jenis pupuk tersebut berbeda satu sama lainnya dan sifatnya saling melengkapi terhadap pertumbuhan tanaman. Adapun manfaat dari setiap jenis pupuk tersebut adalah sebagai berikut :

UREA
Pupuk Urea diperlukan tanaman untuk memenuhi kebutuhan akan unsur hara Nitrogen (N).
Adapun manfaat dari unsur N adalah :
Menjadikan bagian daun menjadi hijau segar sehingga banyak mengandung butir hijau daun yang diperlukan dalam proses fotosintesa.
Mempercepat pertumbuhan vegetatif tanaman (tinggi, jumlah anakan, tunas dan lain-lain) sehingga memperbanyak produksi serta menambah kandungan protein dari hasil tanaman.

ZA
Pupuk ZA diperlukan tanaman untuk memenuhi kebutuhan unsur hara Nitrogen (N) dan Belerang (S).
Adapun manfaat dari unsur hara Belerang (S) adalah :
Membantu pembentukan butir hijau sehingga daun lebih hijau.
Menambah kandungan protein dan vitamin tanaman.
Berperan dalam sintesa minyak yang berguna pada proses pembuatan gula.
Memacu pertumbuhan anakan produktif.
Pemberian belerang mempunyai pengaruh yang positif terhadap hasil produksi padi sawah.

SP-36
Pupuk Sp-36 diperlukan tanaman untuk memenuhi kebutuhan akan unsur hara Fosfat (P)
Adapun manfaat dari unsur hara Fosfat (P) adalah :
Memacu pertumbuhan akan dan pembentukan sistim perakaran yang baik sehingga dapat mengambil unsur hara lebih banyak dan pertumbuhan tanaman menjadi lebih sehat dan kuat.
Menambah daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit.
Mempercepat pertumbuhan jaringan tanaman yang membentuk titik tumbuh tanaman.
Memacu pertumbuhan generatif tanaman yaitu mempercepat pembentukan bunga dan masaknya buah/bji sehingga mempercepat masa panen.
Memperbesar prosentase pembentukan bunga menjadi buah dan biji.

KCL
Pupuk KCL diperlukan oleh tanaman untuk memenuhi kebutuhan unsur hara Kalium (K).
Adapun manfaat unsur hara Kalium (K) adalah :
Memperlancar proses fotosintesa.
Memacu pertumbuhan tanaman pada tingkat permulaan
Memperkuat ketegaran batang sehingga mengurangi resiko mudah rebah.
Mengurangi kecepatan pembusukan hasil selama pengangkutan dan penyimpanan.
Menambah daya tahan tanaman terhadap serangan hama, penyakit dan kekeringan.
Memperbaiki mutu hasil yang berupa bunga dan buah (rasa dan warna)
Share:

KEBUTUHAN PUPUK NPK

 DASAR PENENTUAN KEBUTUHAN PUPUK N,P DAN K BAGI TANAMAN PADI SAWAH


PUPUK AN-ORGANIK
Pupuk an-organik adalah pupuk yang dibuat di pabrik. Pupuk ini diproduksi melalui reaksi-reaksi kimia senyawa anorganik (anorganik di sini merujuk pada senyawa yang bukan berasal dari makhluk hidup) seperti gas alam, nitrogen, garam potasium dan senyawa posfat.
Kelebihan pupuk anorganik adalah dari segi kepraktisan dan kecepatan terserapnya unsur hara dari pupuk. Kemudian kebutuhan pupuk bisa disesuaikan dengan kebutuhan unsur hara bagi padi.
Sementara kelemahan dari pupuk anorganik adalah pupuk anorganik mudah menguap dan mudah larut dalam air sehingga bisa terbawa aliran air yang mengairi sawah. Penggunaan pupuk anorganik secara terus-menerus dapat menggerus kekayaan unsur hara tanah dan meracuni tanah. Hal ini bisa menyebabkan ekosistem tanah yang penting bagi siklus unsur hara menjadi mati dan hilang.
Dari jenis campurannya, pupuk anorganik dibagi menjadi DUA jenis:
1.      Pupuk Tunggal: pupuk yang mengandung satu jenis unsur hara. Contoh: pupuk Urea,KCL, SP-36 dan pupuk ZA.
2.      Pupuk Majemuk: pupuk yang terdiri dari beberapa unsur hara utama sekaligus. Contoh: pupuk NPK.
Takaran Kebutuhan Pupuk Bagi Tanaman Ditentukan oleh:
       Kebutuhan Hara Tanaman,
      Cadangan Hara Dalam Tanah, Dan
      Tingkat Hasil Yang Biasa Dicapai Di Suatu Lokasi
      Jumlah Hara Yang Terangkut Bersama Hasil Panen
Tahapan Dalam Menentukan Jumlah Pemberian Pupuk N,P DAN K:
      Berdasarkan Rata-Rata Hasil Panen Realistis Yang Biasa Dicapai.
      Menentukan Takaran Pupuk N, P Dan K Berdasarkan Tingkat Hasil Realistis Yang Akan Dicapai Dengan Menggunakan Alat Bantu Yang Ada (Peta P Dan K, PUTS, Pettak Omisi, BWD, Permentan).
      Pupuk N Diberikan 3 (Tiga) Kali, Yaitu (1) Pemupukan Dasar (14 Hst), 2) Anakan Vegetatif Cepat, 3) Primordial. Dengan Takaran Sesuai BWD.
      Seluruh Pupuk P (Pupuk SP36, SP18 Atau TSP) Diberikan Pada Saat Tanam.
      Setengah Bagian Pupuk K Atau Seluruhnya Diberikan Pada Awal Pertumbuhan Bersama Pemupukan Urea Pertama;
      Pemupukan K Ke 2 Saat Primordia.
      Pupuk S Diberikan Dalam Bentuk Pupuk ZA Bila Tanaman Padi Menunjukkan Respon Terhadap Pupuk S.
Kandungan Unsur Hara Pada Beberapa Jenis  Pupuk Majemuk Dan Pupuk Tunggal:
Jenis Pupuk
Kandungan Hara (%)
N
P2O5
K2O
S
 NPK Phonska
15
15
15
10
 NPK Pelangi
20
10
10
-
 NPK Kujang
30
6
8
-
 DAP
18
48
-
-
 SP36
-
36
-
5
 ZA (Amonium Sulfat)
21
-
-
24
 Kcl
-
-
60
-
 Urea
45*
-
-
-
Perhitungan Kebutuhan Pupuk:
Bila Diketahui Kebutuhan Hara Tanaman Padi Sawah Adalah:  135 Kg N/Ha, 35 Kg P2O5/Ha, Dan 20 Kg K2O/Ha,
Maka:
Dengan Mengunakan Pupuk Tunggal
      Urea = 135 Kg N/Ha = 100/45 X 135 Kg = 300 Kg Urea/Ha
      SP36 = 100/36 X 35 Kg = 100 Kg SP36/Ha
      Kcl = 100/60 X 20 Kg = 33 Kg Kcl/Ha
Dengan Mengunakan Pupuk Tunggal Dan Majemuk
Misalnya Pupuk Majemuk Yang Digunakan Adalah NPK Phonska (15:15:15)
NPK 15:15:15 = 100/15 X 20 Kg = 133 Kg
Didalam 133 Kg Pupuk Phonska, Mengandung 20 Kg Unsur Hara N, 20 Kg Unsur Hara P2O5 Dan 20 Kg Unsur Hara K2O.
Dengan 133 Kg Phonska Kebutuhan unsur hara K Sudah Terpenuhi, Namun Kebutuhan unsur hara N Dan P Belum Terpenuhi.
Kekurangan:
Urea   = 135 Kg N – 20 Kg N = 115 Kg N                                      
           = 100/45 X 115 Kg = 256 Kg Urea.
SP-36 = 35 Kg P2O5 – 20 Kg P2O5
           = 15 Kg P2O5 = 100/36 X 15 Kg
           = 42 Kg SP36
Berarti, Bila Kebutuhan Hara Tanaman Padi Sawah Adalah:
135 Kg Unsur Hara N/Ha, 35 Kg Unsur Hara P2O5/Ha, Dan 20 Kg Unsur Hara  K2O/Ha,
Maka Setara Dengan Penggunaan:
Pupuk Urea Sebanyak             =          300 Kg
Pupuk Sp-36 Sebanyak           =          100 Kg
Pupuk Kcl Sebanyak               =          33 Kg
ATAU
NPK Phonska (15-15-15) Sebanyak     = 133 Kg
Pupuk Urea Sebanyak                           = 256 Kg
Pupuk Sp-36 Sebanyak                         = 42 Kg
Takaran Pemupukan Pada Awal Pertumbuhan Tanaman Padi (0-14 HST)
Jenis Pupuk
Target Lokasi
Takaran Pupuk
(Kg/Ha) Pada Tingkat Hasil GKG)
5 T/Ha
6 T/Ha
7 T/Ha
8 T/Ha
N (UREA)
Semua Lokasi
45-55
55-65
65-90
90-100
SP-36
P Sedang-Tinggi
60-70
70-85
85-100
100-110
SP-36
P Rendah-Sedang
70-100
100-110
110-140
140-165
KCL
K Rendah (Jerami Diangkut)
30-50
50
50-65
50-65
KCL
K Tinggi (Jerami Ditinggal Di Sawah)
0
15-20
25-30
40-50
ZA
Lokasi Kekurangan Sulfur (S)
75
100
100
100-125
Jumlah Pemupukan N (Urea) Susulan Ke- II (21-28 Hst) Dan Susulan III (35-40 Hst) Berdasarkan Bagan Warna Daun:
Pembacaan BWD
Takaran Pupuk N (Urea) kg/ha Pada Target Hasil (GKG)
5 t/ha
6 t/ha
7 t/ha
8 t/ha
BWD < 3,5
75
100
125
150
BWD = 3,5
50
75
100
125
BWD > 4
0
0-50
50
50
Share:
Copyright © PATRA BOJONEGORO | | #