Minggu, 14 Juni 2015

Sabtu, 06 Juni 2015

METODE HAZTON

Metode hazton ini ditemukan oleh Bapak Anton Kamarudin, Sp., Msi., seorang PPL dari Dinas Kalimantan Barat dengan arahan dari Bapak Ir. H. Hazairin, MS, Kepala Dinas Kalimantan Barat. Metode hazton ini adalah gabungan dari nama dua orang tersebut.
Metode ini memang digadang-gadang sanggup untuk meningkatkan produksi padi hingga 100 persen dari hasil sebelumnya. berhasil dikembangkan di sejumlah areal pertanian di Kalbar. Yakni di Kabupaten Pontianak, Sambas, Kubu Raya dan Kayong Utara.
Pada metode lain biasanya menanam dari bibit yang ada kemudian dipindahkan dan dibagi-bagi lagi, sehingga hanya 3-4 tanaman yang ditanam. Bibit yang ingin ditanam tidak dibagi-bagi dan langsung ditanam hingga mencapai 20-25 tanaman dan sistem pencabutannya dari tempat pembibitan harus hati-hati usahakan akarnya tidak banyak putus. Pada metode ini bisa menggunakan media dengan polybag, pot, atau lahan sempit. Metode Hazton pertama kali diuji coba pada 2012. Jika umumnya padi yang ditanam dengan metode biasa dipanen dalam waktu 115 hari, dengan metode ini waktu panen padi bisa 15 hari lebih cepat dari waktu panen dengan metode biasa.
Metode hazton ini umumnya menggunakan bibit padi yang lebih tua. Alasannya, bibit padi yang semakin tua akan lebih tahan terhadap penyakit. Metode Hazton menggunakan benih tua yang berumur 25-35 hari, dengan penanaman sebanyak 20-30 rumpun perlubang tanam. Dengan cara ini maka seluruh rumpun tanaman adalah merupakan tanaman induk. Diharapkan, secara keseluruhan akan menjadi indukan produktif, karena bibit berada di posisi tengah dan terjepit sehingga bibit akan cenderung tidak menghasilkan anakan, sehingga lebih produktif.

Gambar:  tanaman padi mekongga dengan sistem
hazton (kiri) dan Konvensional (kanan)
Keunggulan dengan metode ini tentu saja hasil produksi yang meningkat. Namun, ada beberapa keuntungan lain, yaitu penanamannya mudah, tanaman cepat beradaptasi dan tidak stress. Karena bibit yang digunakan bibit tua, maka tanaman ini lebih tahan terhadap hama keong dan orong-orong, ketahanan bibit ini akan meminimalisir penyulaman, selain itu juga menimlalisir untuk penyiangan. Jadi, karena rumpun padi Hazton ini sangat rapat sehingga tidak memberi kesempatan pada gulma untuk ikut tumbuh diantara tanaman padi. Karena penyulaman dan penyiangan ini dapat di minimalisir maka otomatis metode ini juga menghemat biaya tenaga kerja juga.
Selain itu teknologi ini dapat mempercepat masa panen (-/+ 15 hari lebih cepat dibanding usia normal), mutu gabah tinggi (persentase hampa rendah), serta menghasilkan beras yang berkualitas tinggi (rendemen beras kepala tinggi, persentase beras pecah rendah). Jumlah bibit banyak dan ditanam rapat lebih rimbun dan cepat keluar malai. Malai akan keluar relative serempak.
Secara konsep pengolahan tanah Metode hazton tidak banyak berbeda dengan metode yang lain. Namun, kami selalu menyarankan untuk tidak membakar jerami sisa panen, mengapa? karena jerami tersebut jika terdekomposisi dengan baik maka akan sangat membantu dalam memberikan tambahan asupan nutrisi untuk tanaman padi.

Langkah-langkah metode hazton:
1.    Persiapan Lahan
Pertama, rumput/jerami dibersihkan (dipotong atau dengan herbisida) kemudian lakukan pengolahan tanah, sekaligus aplikasikan pupuk organik/kandang sebanyak 500-1.000 kg/Ha dan SP- 36 sebanyak 150 kg/ha.
2.   Sterilisasi Lahan

Proses sterilisasi lahan tanam dapat dilakukan dengan menggunakan 1 sachet DECOPRIMA (100 gr), dilarutkan dalam 1-2 liter air didiamkan selama 3-6 jam kemudian diencerkan untuk 100 liter air, dan disemprotkan merata menggunakan sprayer di jerami yang telah disebarkan merata di lahan. Pastikan kondisi jerami tetap lembab/berair (macak-macak) supaya proses dekomposisi berjalan optimum. Keperluan untuk 1 ha sawah = 400 liter/ha (4-5 saset).
3.   Persiapan Benih
Benih padi yang dibutuhkan adalah sekira 100-120 kg/ha, dan pilihlah benih unggul.
4.   Imunisasi Benih
Benih direndam dengan air yang dicampur BactoPlus Padi selama 24 jam. Satu tablet BactoPlus Padi untuk 5-10 kg gabah.
5.   Pemeraman Benih
Setelah diperam dalam karung goni lembab selama 24-48 jam, benih tumbuh tunas dan akar siap ditabur/disemai di pesemaian. Kemudian benih yang sudah diperam (sudah keluar akar) ditabur merata di bedengan pesemaian.bAgar terhindar serangan burung, benih yang telah ditabur dipukul-pukul/dibenamkan sedikit di dalam lumpur.
6.   Imunisasi Padi di Pesemaian (saat umur 7-15 hari setelah semai)
Proses ini menggunakan 1 tablet Bactoplus kemudian dilarutkan 100 cc air, dibiarkan 6-12 jam, dicampur air 15 liter (1 tangki semprot).
7.    Umur Bibit
Umur bibit 25-30 hari ditanam dengan 20-30 bibit/lubang
8.   Jarak Tanam
Jarak tanamn padi menggunakan Sistem Jajar Legowo (4:1, 2:1). Jarak tanam 25x20/40.
9.   Pemupukan
Aplikasi pupuk urea 50 kg dan NPK 50 kg pada umur 5-7 hari setelah tanam
Aplikasikan PPC (Pupuk Pelengkap Cair) pada umur 7, 17, 27 dan 37 hari setelah tanam.
Aplikasi probiotik Bactoplus Padi pada umur padi: 12, 24, dan 45 hst. Dapat dicampur dengan insektisida (Bahan aktif : Abamiktin 2 cc/liter)

Aplikasi Pupuk Susulan: Pupuk Urea 50 kg, NPK 100 kg, dan KCl 50 kg pada umur 25 hari setelah tanam.( Shintapertanian)
Share:

Jumat, 05 Juni 2015

SEMANGAT PATRA DIKECAMATAN BALEN

 PATRA BJN_ Semangat muda semangat membara itulah yang bisa disebut untuk temen-temen taruna tani Kecamatan Balen, PATRA ( pelatihan anak tani remaja) yang dilaksanakan pada hari kamis tanggal 04 - 06- 2015 di Balai Desa sabontoro sangat membuat kita termotivasi.

Acara yang dihadiri Kabid SDM, Kasi SDM Dinas pertanian Bojonegor, Koramil, kapolsek dan dibuka oleh bapak Camat Balen, dalam acara tersebut Bapak camat berpesan kepada temen - temen muda yang hadir. Kesempatan kayak ini jarang dimiliki orang -  orang maka dari itu kita harus bisa mengembangkan Taruna Tani ini dengan menumbuhkan semangat dan senang pada pertanian khususnya untuk diri kita sendiri dan umumnya kepada temen - temen muda dan bisa membantu pertanian orang tua kita.

Dalam sesi tanya jawab salah satu peserta ahmad Perwakilan Karang Taruna dari Desa  Sabontoro, awalnya kaget dan merasa tidak cocok dengan pertanian untuk pemuda sekarang, tapi setelah mengikuti dan mendengarkan narasumber dari Pak Sentot dan Pak joko PW semangat dan pengetahuan tentang pentingnya pertanian tumbuh sendirinya dan siap untuk membantu dan mengembangkan Taruna Tani di desanya.

Program pertanian tentang Swasembada pangan memang bukan tugas pemerintah saja tapi kita semua mempunyai tanggung jawab untuk membantu bangsa kita di sektor pertanian dan mensuseskannya,Pemuda sangat mempunyai peran penting dalam pertanian untuk transfer teknologi baru dan sistem baru pemikiran yang muda sangat diperlukan dan mutlak dibutuhkan ucap pak Joko PW.

Share:

Kamis, 14 Mei 2015

SLPTT SWADAYA KWT PUTRI TANI Desa Drajat Kec. Baurna



PATRA_ Semangat ibu-ibu rumah tangga dalam pertemuan SLPTT swadaya yang dilakukan KWT (Kelompok Wanita Tani) Putri Tani sangat membuat kita termotivasi, dalam hal lembaga perlu kita tiru dan adopsi untuk wilayah lain. Kelembagaan organisasi  yang aktif dan hidup dengan mengadakan pertemuan rutin dengan menggunakan biaya sendiri kelompok. Segi manajemen KWT mempunyai produk-produk sendiri berupa minuman dll.

Pertemuan tersebut juga dihadiri dari PPL setempat yaitu Bapak Iskak Riyanto dan Babinsa Desa Drajat kecamatan Baurno serta dari Ketua PATRA Bojonegoro dan pendamping UPSUS PAJALE, dalam sambutanya   Bapak iskak mengtakan bahwa kunci peningkatan produktivitas yang salah satunya adalah pengendalian Hama dan penyakit yang intinya kita pengamatan di lahan secara menyeluruh. Acara tadi juga kita terjun ke lahan langsung dengan pengambilan OPT yang semua kita ambil kita analisa bersama-sama.

Salah satu peserta anggota Kelompok Wanita Tani Marmi, mengatakan sangat senang dengan adanya pertemuan tadi, disitu anggota bisa  menganalisa sendiri mengamati sendiri OPT dilahan masing - masing anggota sehingga anggota langsung bisa mepraktekan sendiri ilmu yang didapat dalam pertemuan tadi.

Pendamping UPSUS PAJALE Arista sangat kaget dengan adanya KWT di Bojonegoro yang aktif dalam pengolahan lembaganya yang selama ini belum pernah dilihat di Kabupatenya, pendamping asal Kota Malang yang mendapatkan penempatan di Bojonegoro itu sangat senang dengan adanya produk yang di buwat ibu - ibu KWT.


Share:

Sabtu, 09 Mei 2015

MANFAAT MIKORIZA DALAM TANAMAN





 
PATRA_Mikoriza Amanita (bercak-bercak putih) menginfeksi ujung akar.
Mikoriza adalah bentuk simbiosis antara cendawan (fungi) dengan tumbuhan tingkat tinggi (tumbuhan berpembuluh, Tracheophyta), khususnya pada sistem perakaran. Terdapat juga cendawan yang bersimbiosis dengan cendawan lainnya, tetapi sebutan mikoriza biasanya adalah untuk simbiosis cendawan yang menginfeksi akar tumbuhan. Bentuk simbiosis ini terutama adalah simbiosis mutualisme, meskipun pada beberapa kasus dapat berupa simbiosis parasitisme lemah.
Mikoriza merupakan gejala umum pada perakaran tumbuhan. Sekitar 90% suku tumbuhan (mencakup sekitar 80% spesies tumbuhan) memiliki asosiasi simbiotik ini. Catatan fosil menunjukkan asosiasi ini telah ada sejak Zaman Karbon.
Nama "mikoriza" adalah serapan dari istilah bahasa Inggris, mycorrhiza, yang juga bentukan dari dua kata bahasa Yunani Kuna: μύκης mýkēs, "jamur", dan ῥίζα rhiza ‚"akar

Keanekaragaman
Mikoriza memerlukan akar tumbuhan untuk melengkapi daur hidupnya. Sebaliknya, beberapa tumbuhan bahkan ada yang tergantung pertumbuhannya dengan mikoriza. Beberapa jenis tumbuhan tidak tumbuh atau terhambat pertumbuhannya tanpa kehadiran mikoriza di akarnya. Sebagai misalnya, semaian pinus biasanya gagal tumbuh setelah pemindahan apabila tidak terbentuk jaringan mikoriza di sekitar akarnya. Hanya sedikit kelompok tumbuhan yang tidak menjadi simbion, seperti dari Brassicaceae, Commelinaceae, Juncaceae, Proteaceae, Capparaceae, Cyperaceae, Polygonaceae, Resedaceae, Urticaceae, dan Caryophyllales.
Mikoriza dapat diinokulasi secara buatan. Namun demikian, inokulasi mikoriza asing memerlukan bantuan mikoriza lokal, misalnya dengan menambahkan tanah dari tempat asal tumbuhan.
Dua kelompok mikoriza terbesar adalah ektomikoriza (EcM) dan endomikoriza (EM). Endomikoriza terutama didominasi oleh mikoriza arbuskular (arbuscular mycorrhizae, AM), ditambah dengan sekelompok mikoriza erikoid dan mikoriza arbutoid yang menginfeksi tumbuhan kelompok Ericoidae.

Semua endomikoriza termasuk ke dalam filum Glomeromycota, misalnya genus Gigaspora, Scultellospora, Acaulospora, Entrophospora, Glomus, dan Sclerocystis. Terdapat sekitar 150 jenis (spesies) spora cendawan AM yang telah dideskripsi. AM tergolong dalam kelompok khusus dari populasi mikoriza yang sangat banyak mengkolonisasi rizosfer, yaitu di dalam akar, permukaan akar, dan di daerah sekitar akar. Hifa eksternal yang berhubungan dengan tanah dan struktur infeksi seperti arbuskula di dalam akar menjamin adanya perluasan penyerapan unsur-unsur hara dari tanah dan peningkatan transfer hara (khususnya fosfor) ke tumbuhan, sedangkan cendawan memperoleh karbon organik dari tumbuhan inangnya (Marschner, 1995).

Ektomikoriza


Ektomikoriza menutuipi permukaan bagian tanaman yang tertutup tanah.
Ektomikoriza menginfeksi permukaan luar tanaman dan di antara sel-sel ujung akar. Akibat serangannya, terlihat jalinan miselia berwarna putih pada bagian rambut-rambut akar, dikenal sebagai jala Hartig. Serangan ini dapat menyebabkan perubahan morfologi akar. Akar-akar memendek, membengkak, bercabang dikotom, dan dapat membentuk pigmen. Infektivitas tergantung isolat dan kultivar tumbuhan inang. Tumbuhan inangnya biasanya tumbuhan tahunan atau pohon. Beberapa di antaranya merupakan komoditi kehutanan dan pertanian seperti sengon, jati, serta beberapa tanaman buah seperti mangga, rambutan, dan jeruk. Selain itu pohon-pohon anggota Betulaceae, Fagaceae, dan Pinaceae juga menjadi inangnya. Pada umumnya ektomikoriza termasuk dalam filum Basidiomycota dan Ascomycota. Ada sedikit anggota Zygomycota yang juga menjadi cendawan ektomikoriza.

Endomikoriza

Endomikoriza menginfeksi bagian dalam akar, di dalam dan di antara sel-sel ujung akar (root tip). Hifa masuk ke dalam sel atau mengisi ruang-ruang antarsel. Jenis mikoriza ini banyak ditemukan pada tumbuhan semusim yang merupakan komoditi pertanian penting, seperti kacang-kacangan, padi, jagung, beberapa jenis sayuran dan tanaman hias. Infeksi ini tidak menyebabkan perubahan morfologi akar, tetapi mengubah penampilan sel dan jaringan akar. Berdasarkan tipe infeksinya, dikenal tiga kelompok endomikoriza: ericaceous (Ericales dengan sejumlah Ascomycota), orchidaceous (Orchidaceae dengan sekelompok Basidiomycota), dan vesikular arbuskular (sejumlah tumbuhan berpembuluh dengan Endogonales, membentuk struktur vesikula (gelembung) dan arbuskula dalam korteks akar) disingkat MVA.

Mikoriza arbuskular

Mikoriza arbuskular (AM, dulu disebut mikoriza vesikular-arbuskular, VAM) tumbuh dari luar perakaran lalu masuk ke dalam jaringan perakaran dan pada gilirannya memasuki sel-sel perakaran. AM di dalam jaringan akan membentuk arbuskula, yaitu jaringan hifa yang menembus sela-sela sel dan bahkan menembus sel melalui plasmalema. Di dalam sel, hifa akan membentuk vesikula, suatu gelembung-gelembung kecil di sitoplasma. AM sulit ditumbuhkan secara aksenik (media buatan) sehingga MVA dianggap merupakan simbion obligat (wajib).
Vesikula berbentuk butiran-butiran di dalam sitoplasma yang mengandung lipid dan menjadi alat reproduksi vegetatif mikoriza, khususnya bila sel pecah akibat rusaknya korteks akar. Arbuskula berwujud kumpulan hifa yang menembus plasmalema dan membantu transportasi hara di dalam sel tumbuhan. Pembentukan vesikula dan arbuskula dalam sel menunjukkan bahwa simbiosis telah terjadi dengan sempurna dan tanaman sudah dapat menikmati hasil kerja sama dengan mikoriza berupa meningkatnya ketersediaan unsur hara yang diserap dari dalam tanah.
Selain vesikula dan arbuskula, terbentuk hifa eksternal yang dapat membantu memperluas ruang penyerapan hara oleh akar. Pada bawang merah, misalnya, panjang hifa eksternal dapat mencapai 80 cm per satu cm panjang akar. Di luar akar, hifa dapat membentuk sporangium yang menghasilkan spora sebagai alat reproduksi.
AM banyak membawa keuntungan bagi tumbuhan simbionnya. Ia memperbaiki hasil tumbuhan dan mengurangi masukan pupuk pada tanaman pertanian. Ini terjadi karena MVA meningkatkan ketersediaan beberapa hara di tanah yang diperlukan tanaman, terutama fosfat. Peningkatan penyerapan fosfat diiringi dengan peningkatan penyerapan hara lain, seperti nitrogen (N), seng (Zn), tembaga (Cu), dan belerang (S). Selain itu, MVA memperluas ruang tanah yang dapat dijangkau oleh tanaman inang. Jeruk, umpamanya, dikenal responsif terhadap inokulasi MVA. Inokulasi ini dapat mengarah pada menurunnya penggunaan pupuk P. Selain meningkatkan ketersediaan hara, AM meningkatkan toleransi tumbuhan terhadap kurangnya pasokan air. Luasnya jaringan hifa di tanah membantu akar menyerap air. MVA memengaruhi ketahanan tumbuhan inang terhadap serangan penyakit. AM, tergantung jenisnya, dapat mengurangi pengaruh serangan jamur patogen. Demikian pula, juga dapat mengurangi serangan nematoda. Sebaliknya, tumbuhan yang terinfeksi AM menurun ketahanannya terhadap serangan virus.
Pengaruh AM lain yang pernah teramati adalah dukungannya terhadap simbiosis antara bakteri bintil akar dan polong-polongan, produksi giberelin oleh Gibberella mosseae, memengaruhi sintesis fitohormon tertentu, dan memperbaiki struktur agregasi tanah.

Manfaat Umum MVA

Manfaat dari MVA dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu manfaat dalam ekosistem, manfaat bagi tanaman, dan manfaatnya bagi manusia. Manfaat mikoriza MVA dalam ekosistem sangat penting, yaitu berperan dalam siklus hara, memperbaiki struktur tanah dan menyalurkan karbohidrat dari akar tanaman ke organisme tanah yang lain, sedangkan manfaat bagi tanaman yaitu dapat meningkatkan penyerapan unsur hara, terutama P. MVA ini dapat mengeluarkan enzim fosfatase dan asam-asam organik, khususnya oksalat yang dapat membantu membebaskan P. MVA dapat membantu mengatasi masalah ketersediaan fosfat melalui dua cara, pengaruh langsung melalui jalinan hifa eksternal yang diproduksinya secara intensif sehingga tanaman bermikoriza akan mampu meningkatkan kapasitasnya dalam menyerap unsur hara dan air dan pengaruh tidak langsung, dimana mikoriza dapat memodifikasi fisiologis akar sehingga dapat mengeksresikan asam-asam organik dan fosfatase asam ke dalam tanah. Fosfatase asam merupakan suatu enzim yang dapat mamacu proises mineralisasi P Organik dengan mengkatalisis pelepasan P dari kompleks organik menjadi kompleks anorganik.

Mekanisme Penyerapan Fosfat oleh Mikoriza

Peranan MVA tersebut dalam meningkatkan ketersediaan dan serapan P dan unsur hara lainnya melalui proses sebagai berikut :
1. Modifikasi Kimia oleh mikoriza dalam proses kelarutan P tanah Pengaruh Mikoriza Arbuskula Pada Ketersediaan dan Penyerapan Unsur Hara Pada tahap ini, terjadi modifikasi kimia oleh mikoriza terhadap akar tanaman, sehingga tanaman mengeksudasi asam-asam norganik dan enzim fosfatase asam yang memacu proses mineralisasi P. Eksudasi akar tersebut terjadi sebagai respon tanaman terhadap kondisi tanah yang kahat P, yang mempengaruhi kimia rizosfer.
2. Perpendekan jarak difusi oleh tanaman bermikoriza. Mekanisme utama bagi pergerakan P ke permukaan akarah melalui difusi yang terjadi akibat adanya gradien konsentrasi, serta merupakan proses yang sangat lambat. Jarak difusi ion-ion fosfat tersebut dapat diperpendek dengan hifa eksternal CMA, yang juga dapat berfungsi sebagai alat penyerap dan translokasi fosfat.
3. Penyerapan P tetap terjadi pada tanaman bermikoriza meskipun terjadi penurunan konsentrasi minimum P. Konsentrasi P yang ada di larutan tanah dapat menjadi sangat rendah dan mencapai konsentrasi minimum yang dapat diserap akar, hal ini terjadi sebagai akibat terjadinya proses penyerapan ion fosfat yang ada di permukaan akar. Di bawah konsentrasi minimum tersebut akar tidak mampu lagi menyerap P dan unsur hara lainnya, sedangkan pada akar bermikoriza, penyerapan tetap terjadi sekalipun konsentrasi ion fosfat berada di bawah konsentrasi minimum yang dapat diserap oleh akar. Proses ini ini terjadi karena afinitas hifa eksternal yang lebih tinggi atau peningkatan daya tarikmenarik ion-ion fosfat yang menyebabkan pergerakan P lebih cepat ke dalam hifa MVA.
Share:

Kamis, 30 April 2015

SEMANGAT PATRA KEC. KEDUNGADEM




PATRA_ Pelatihan Anak Tani Remaja dalam ini Koordinator PATRA Kecamatan Kedungadem mas Arif mempunyai semangat gagasan untuk mengadakan kegiatan Pemberdayaan untuk Taruna Tani yang dilaksanakan di Pendopo Kecamatan Kedungadem pada tanggal 30 April 201, jam 09.00 WIB, Acara yang di hadiri dari Kasi SDM dinas Pertanian Bojonegoro, Kepala UPTD Kecamatan Sukosewu,Ketua PATRA Bojonegoro dan Bapak Iskak Iriyanto selaku Pembina PATRA Bojonegoro.
Dalam acara tersebut yang dihadiri 96 peserta dari beberapa Desa dan melihat peserta  sangat antusia dalam mengikuti acara tersebut dalam sabutanya dan pengarahanya Bapak Joko PW Kasi SDM Dinas Pertanian Bojonegoro mengatakan, bangsa kita sangat membutuhkan generasi muda yang aktif di pertanian sebab transfer teknologi dan sistem mutlak diperlukan di sektor pertanian maka dari itu kita tidak boleh kalah bersaing dengan Negara lain kita tidak boleh malu dengan pertanian, melihat sekarang minat pemuda akan pertanian semakin hari semaki  turu sedangkan penduduk kita semakin hari semakin bertambah dalam jangka panjang kalau tidak di imbangi pertanian modern kita akan langka pangan, sektor pertanian juga yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Pertanian setiap hari setiap waktu terus berkembang maka dari itu kita harus bergerak bersama antara Kelompok Tani, Kelompok Wanita Tani dan Taruna Tani harus bersama sama mewujudkan pertanian yang sehat pertanian yang ramah lingkunga dengan Biaya Hemat Produksi Meningkat.

Bapak Qomar yang juga Kepala UPTD Sukosewu menabahi bahwa pertanian sangat mudah dan cepat dengan menggunakan sistem pertanian Moderen seperti Salibu atau Singgang, Jajar Legowo,Metode SRI dan masih banyak lagi yang bias diterapkan, Jika diterapkan dengan benar pasti hasinya akan meningkat.

Salah satu peserta dalam sesi tanya jawab mas Abdullah dari Desa Megale mengatakan sangat senang dengan adanya kegiatan semacam ini karena petani butuh bimbingan butuh arahan yang selama ini mungkin belum maksimal, harapanya semoga dari pemerintah istansi terkait  terus mengadakan acara seperti ini yang target utamanya pemuda pemuda anak Petani jangan Cuma satu kali ini tapi tindak lanjut untuk pelatihan lebih intensif  harus diadakan.
Share:

BEM Fakultas Pertanian UNIGORO Bersama PATRA



PATRA_Badan Ekskutif Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Bojonegoro (UNIGORO) bersama PATRA Bojonegoro mengadakan Seminar Pertanian dengan tema “ Mewujudkan Ketahanan Pangan melalui Regenerasi Pertanian “ dalam acara yang dihadiri narasumber dari Dinas Pertanian Bojonegoro Bapak Joko PW, Bapak Heri Widodo dari Ketahana pangan dan Bapak Umar Ghoni dari BPPKB Bojonegoro. Presiden BEM Fakultas Pertanian Adhi Sucupto mempunyai tujuan dari di selenggaranya acara tersebut para pelajar,mahasiswa khususnya fakultas pertanian  harus mengerti tentang pentingnya regenerasi pertanian dalam mewujudkan ketahanan pangan dan peran mahasiswa sangat mutlak diperlukan untuk membantu mendampingi petani , melihat UNIGORO sangat membantu dalam mecetak generasi- generasi yang bisa bermanfaat bagi petani khususnya sektor pertanian banyak alumni UNIGORO yang berada di instasi,perusahaan swasta yang mempunyai peran sangat penting untuk mendampingi petani.
Dalam sambutanya Dekan Fakultas pertanian Bapak Sugiyanto Sangat mendukung adanya PATRA di Fakultas Pertanian, mahasiswa harus aktif dalam kegiataan PATRA di situ Mahaiswa bisa mempunyai pengalaman baru ilmu baru yang  diadakan setiap kegiataan PATRA Bojonegoro, sebagai generasi muda harus semangat apalagi di sektor pertanian yang sejalan sama kita. Tidak lupa Bapak Dekan juga mengucapkan banyak terimaksih kepada Bpak Iskak Iriyanto Selaku inisiator PATRA di Bojonegoro dan mas Yaumitdin Sugianto Ketua PATRA Bojonegoro yang membawa PATRA di UNIGORO. 
Acara yang diselenggarakan di Aula Universitas Bojonegoro pada tanggal 29 April 2015 dihadiri dari beberapa sekolahan dan kampus, dalam  acara tersebut juga peserta dikenalkan dengan Hidroponik yaitu pertanian tanpa mengguna media tanam tanah. hidroponik sangat cocok untuk pertanian perkotaan tanpa berlumur lumpur kita bisa menanam sayuran dll dan mudah dikerjakan,tutur pemateri mbak indah dari Komunitas Hidroponik Bojonegoro (KOHIBO).
Peserta sangat antusia dan tertarik akan hidroponik sehingga banyak pertanyaan yang menyakut hidroponik, salah satu peserta pengen adanya pelatihan di sekolahannya tentang hidroponik dan pengawalan dari komunita KOHIBO. Tidak kalah juga dari mahasiwa paska seminar ini akan menerapkan hidroponik difakultas pertanian dengan mengadakan pelatihan tentang hidroponik.


Share:
Copyright © PATRA BOJONEGORO | | #